
Karawang, Karawanghitz — Kemeriahan ajang BSI Flash 2025 tak hanya diramaikan oleh gemuruh kompetisi digital dan kreativitas teknologi, tetapi juga menghadirkan atmosfer tradisional yang menggugah lewat pertunjukan seni budaya. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian publik adalah Tari Jaipong, seni tari khas Jawa Barat yang kembali unjuk pesona di tengah dominasi hiburan modern. Kehadiran Jaipong di panggung kompetisi ini seolah menegaskan bahwa warisan budaya Indonesia masih memiliki tempat istimewa di hati generasi muda.
Diselenggarakan oleh Universitas Bina Sarana Informatika (BSI), BSI Flash bukan sekadar ajang lomba biasa. Ini merupakan sebuah perayaan kolaboratif antara seni, teknologi, dan pendidikan. Kehadiran Jaipong di ajang ini bukan sekadar pengisi acara atau hiburan sela, Jaipong tampil sebagai salah satu kompetisi utama dalam kategori budaya lokal. Dalam edisi 2025, kompetisi seni pertunjukan mengalami peningkatan peserta yang signifikan, terutama dalam kategori tari tradisional. Dari berbagai tarian daerah, Jaipong menonjol sebagai pertunjukan yang paling diminati dan menuai banyak pujian dari penonton maupun juri.
Jaipong Jadi Primadona Baru di Kompetisi Seni
Tari Jaipong sendiri pertama kali diperkenalkan pada awal 1960-an oleh seniman Gugum Gumbira sebagai bentuk revitalisasi seni rakyat yang pada saat itu mulai tersisih oleh pengaruh budaya asing. Dengan ritme dinamis, gerak tubuh ekspresif, dan iringan musik khas seperti kendang, saron, dan rebab, Jaipong menjadi simbol kebebasan ekspresi serta kekuatan lokalitas. Seiring waktu, tari ini berkembang dan digunakan sebagai media diplomasi budaya hingga menjadi bagian dari pertunjukan resmi dalam forum internasional.
Namun demikian, dalam satu dekade terakhir, sempat mengalami penurunan pamor di kalangan remaja yang lebih akrab dengan budaya populer global. Menurut data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud ristek), hingga tahun 2023 tercatat lebih dari 300 bentuk seni tari tradisional di Indonesia yang terancam punah karena minimnya regenerasi pelaku dan rendahnya panggung apresiasi di kalangan muda. Masuknya K-pop, tarian TikTok, dan tren budaya luar sempat membuat seni tradisional seperti Jaipong terpinggirkan. Oleh karena itu, tampilnya Jaipong dalam ajang seperti BSI Flash 2025 menjadi momentum penting untuk membalik arus tersebut.
Selain menjadi simbol kearifan lokal, Jaipong juga menunjukkan daya adaptasinya terhadap perubahan zaman. Dalam beberapa penampilan di BSI Flash, gerakan khas Jaipong dipadukan dengan elemen-elemen modern seperti pencahayaan panggung yang dinamis dan iringan musik hasil aransemen digital. Inovasi ini membuktikan bahwa seni tradisional tidak harus kaku atau terbelakang, melainkan bisa bertransformasi selaras dengan selera generasi milenial dan Gen Z tanpa kehilangan jati diri.
Kompetisi seni seperti BSI Flash turut berkontribusi dalam pembentukan ekosistem kreatif berbasis budaya. Tidak hanya menciptakan ruang ekspresi, ajang ini juga mendorong peserta untuk menggali akar budaya mereka sendiri sebagai sumber inspirasi. Jaipong, sebagai salah satu identitas budaya Sunda, menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang berasal dari luar wilayah Jawa Barat.
BSI Flash 2025 membuktikan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, khususnya kalangan muda. Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini menjadi ruang refleksi atas pentingnya menjaga keberlanjutan budaya sebagai bagian dari identitas nasional. Dengan dukungan ekosistem pendidikan yang mendukung dan kesadaran kolektif dari generasi muda, Tari Jaipong berpeluang besar untuk kembali mengisi ruang-ruang seni di tingkat nasional maupun internasional. Tantangan yang tersisa adalah bagaimana mempertahankan konsistensi ini di luar ajang kompetisi, serta melibatkan lebih banyak komunitas dan daerah untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian budaya yang berkelanjutan.
Melalui momentum BSI Flash 2025, Tari tidak hanya tampil sebagai seni pertunjukan semata, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan budaya lokal yang mampu bersaing di tengah gelombang globalisasi. Ajang ini membuktikan bahwa di tengah kemajuan teknologi, nilai-nilai tradisi tetap bisa hidup dan berkembang, selama ada komitmen bersama untuk melestarikannya. Bagi generasi muda, ini adalah panggung untuk mengenali akar budaya mereka sendiri, dan bagi Jaipong, ini adalah momen untuk kembali bersinar sebagai primadona.












