Teknologi

Komentar Diduga Bernuansa SARA di Media Sosial Picu Reaksi Warganet Indonesia

×

Komentar Diduga Bernuansa SARA di Media Sosial Picu Reaksi Warganet Indonesia

Sebarkan artikel ini
SARA

SARA

Karawang, KarawangHitz — Sejumlah komentar di media sosial yang dinilai menyinggung agama masyarakat Indonesia memicu reaksi warganet dalam beberapa hari terakhir. Komentar tersebut disebut berasal dari akun yang diidentifikasi sebagai warganet Korea.

Unggahan tersebut mendapat tanggapan beragam dari pengguna media sosial di Indonesia. Sebagian mengaku kecewa, sementara yang lain mengajak agar respons tetap disampaikan secara bijak tanpa memperkeruh situasi.

Wina Ina Sentiya (20) menilai tindakan bernuansa rasis dan penghinaan terhadap agama di media sosial tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, komentar yang membawa unsur SARA berpotensi menimbulkan konflik serta memperburuk hubungan antarwarganet dari negara berbeda.

“Rasisme bukan hal yang bisa dimaklumi, apalagi jika sampai membawa unsur agama,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu (25/2).

Ia mengaku menemukan sejumlah kasus serupa melalui media sosial, termasuk komentar bernada diskriminatif terhadap warga Indonesia. Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa ruang digital masih rentan terhadap ujaran yang menyinggung identitas kelompok tertentu.

Wina juga menyoroti reaksi sebagian pengguna media sosial Indonesia yang membalas dengan komentar bernada serupa terhadap warga Korea Selatan secara umum. Ia menilai respons tersebut tidak menyelesaikan persoalan dan justru berpotensi memperluas konflik.

Baca Juga: Tips Langsing ala Korea: Pola Makan dan Gaya Hidup Sehat

“Bijaklah dalam menggunakan media sosial karena kita tidak hidup sendiri di dalamnya,” katanya.

Menurut Wina, setiap individu berhak dihormati tanpa memandang latar belakang agama maupun kebangsaan. Ia menegaskan bahwa tindakan rasisme bertentangan dengan nilai saling menghormati yang seharusnya dijaga dalam interaksi digital.

“Saya berharap edukasi mengenai bahaya cyberbullying dan pentingnya toleransi bisa lebih ditingkatkan,” tuturnya.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa interaksi lintas negara di media sosial memerlukan sikap saling menghargai. Reaksi warganet yang muncul menunjukkan pentingnya pengelolaan komunikasi digital agar tidak memicu kesalahpahaman dan konflik yang lebih luas.