Teknologi

Tekanan Overwork di Industri Manufaktur Karawang Tantang Kesehatan Mental Pekerja saat Ramadan

×

Tekanan Overwork di Industri Manufaktur Karawang Tantang Kesehatan Mental Pekerja saat Ramadan

Sebarkan artikel ini
Industri
Sumber Gambar: NH
Industri
Sumber Gambar: NH

Karawang, Karawanghitz — Tekanan target produksi di sektor industri manufaktur Karawang tetap berjalan normal selama bulan Ramadan. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian pekerja yang harus menjaga stamina fisik sekaligus kestabilan mental saat menjalankan ibadah puasa.

Salah satu pekerja lapangan di perusahaan manufaktur Karawang, Akbar Ghoni (22), mengaku merasakan perbedaan beban mental saat bekerja di bulan Ramadan dibandingkan bulan lainnya. Menurutnya, ritme kerja di sektor manufaktur menuntut ketelitian dan konsistensi tinggi meski kondisi fisik sedang berpuasa.

“Bekerja di sektor manufaktur memang menuntut fokus karena target produksi sudah terjadwal ketat. Saat Ramadan, tantangannya terasa berbeda karena energi fisik lebih terbatas, sementara target tetap sama,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (24/2).

Akbar menyebut tekanan muncul ketika harus mempertahankan performa kerja di tengah kekhawatiran tidak mencapai target. Ia mengaku rasa cemas tersebut terkadang memengaruhi konsentrasi selama bekerja.

Selain tuntutan produksi, durasi kerja yang panjang juga berdampak pada kondisi mental. Setelah menjalani aktivitas seharian di pabrik, kelelahan yang dirasakan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis.

Baca Juga: Pria di Bantul Tewas Dibacok OTK Saat Tidur, Polisi Duga Pembunuhan Terencana

“Kadang setelah pulang kerja, lelahnya bukan cuma di fisik, tapi juga di pikiran karena seharian menjaga fokus di bawah tekanan target. Efeknya terasa saat menjalankan ibadah malam,” katanya.

Menurutnya, kelelahan mental dapat memengaruhi kualitas ibadah seperti salat Tarawih. Pikiran yang masih terbawa pada pekerjaan membuat konsentrasi beribadah menjadi kurang maksimal.

Fenomena ini mencerminkan tantangan yang dihadapi sebagian pekerja industri selama Ramadan, terutama di kawasan industri dengan ritme produksi tinggi seperti Karawang. Target perusahaan yang tetap berjalan tanpa penyesuaian sering kali membuat pekerja harus melakukan adaptasi ekstra terhadap pola istirahat dan manajemen energi.

Akbar menilai kesehatan mental memiliki pengaruh langsung terhadap kualitas kerja. Ia berharap perusahaan dapat mempertimbangkan kebijakan yang lebih adaptif selama Ramadan, seperti pengaturan ritme kerja atau penyesuaian tertentu yang tetap menjaga produktivitas.

“Saya rasa kesehatan mental berpengaruh pada hasil kerja. Kalau ada penyesuaian ritme selama Ramadan, pekerja bisa lebih tenang dan tetap produktif,” ujarnya.

Di sisi lain, sektor manufaktur merupakan tulang punggung perekonomian daerah yang bergantung pada ketepatan waktu dan pencapaian target produksi. Oleh karena itu, keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kesejahteraan pekerja menjadi perhatian penting.

Pengalaman pekerja seperti Akbar menunjukkan bahwa bulan Ramadan menghadirkan dinamika berbeda dalam dunia industri. Selain menuntut ketahanan fisik, pekerja juga perlu menjaga stabilitas mental agar tetap mampu memenuhi tanggung jawab profesional sekaligus menjalankan ibadah dengan baik.

Isu kesehatan mental di lingkungan kerja semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya kesadaran akan risiko burnout akibat beban kerja berlebih. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif sekaligus memperhatikan kesejahteraan karyawan.