Dunia Usaha

Isu Perundungan dan Rasisme di Korea Selatan Jadi Sorotan

×

Isu Perundungan dan Rasisme di Korea Selatan Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Perundungan
Sumber Gambar: SPN
Perundungan
Sumber Gambar: SPN

Karawang, Karawanghitz — Isu perundungan dan rasisme di Korea Selatan kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya sorotan terhadap dinamika sosial di negara tersebut. Sejumlah pengamat menilai praktik perundungan dan diskriminasi masih menjadi tantangan sosial yang perlu mendapat perhatian.

Sejumlah laporan media internasional mencatat kasus perundungan di lingkungan sekolah dan tempat kerja di Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan budaya hierarki dan senioritas yang kuat dalam struktur sosial masyarakatnya.

Sabina Galuh Aldinar (20) menilai perundungan di Korea Selatan dipicu oleh kurangnya keterbukaan terhadap perbedaan serta minimnya pemahaman untuk menghargai sesama. Menurutnya, tekanan sosial yang tinggi dapat mendorong munculnya perilaku diskriminatif terhadap individu yang dianggap berbeda dari standar umum.

“Masalah ini bisa terjadi di negara mana pun jika pola pikir masyarakatnya belum dibekali pemahaman untuk menghargai sesama,” ujarnya, Selasa (24/2).

Ia menambahkan bahwa tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar tertentu sering kali membuat individu yang berada di luar standar tersebut rentan mengalami pengucilan sosial.

Selain praktik perundungan, isu rasisme juga menjadi perhatian. Korea Selatan yang secara demografis relatif homogen dinilai menghadapi tantangan dalam menerima keberagaman budaya.

Sejumlah warga asing melaporkan pengalaman diskriminasi, terutama mereka yang berasal dari negara Asia Tenggara. Bentuknya beragam, mulai dari komentar stereotip hingga perlakuan berbeda dalam interaksi sosial.

Baca Juga: Katanya 19 Juta Lowongan Kerja, Mengapa Pengangguran Tetap Bertambah?

Dalam pandangan Sabina, standar kecantikan yang menekankan kulit putih dan tubuh kurus turut memperkuat pola pikir eksklusif tersebut. Ia menilai standar sosial yang kaku dapat memengaruhi cara masyarakat memandang individu di luar kriteria tersebut.

“Saya rasa sikap ini perlu dikritik karena kecantikan tidak hanya diukur dari warna kulit atau bentuk tubuh,” tegasnya.

Sabina berharap masyarakat Korea Selatan dapat lebih terbuka terhadap keberagaman di tengah arus globalisasi. Menurutnya, penerimaan terhadap perbedaan menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif.

Isu perundungan dan rasisme menunjukkan bahwa tantangan sosial dapat muncul di berbagai negara, termasuk yang memiliki kemajuan ekonomi dan budaya populer yang kuat. Kesadaran untuk membangun empati dan menghargai keberagaman dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial di era global.