Karawanghitz, Karawang — Tren penurunan harga minyak mentah dunia mulai memberikan angin segar bagi pasar energi global. Pada perdagangan yang berakhir Jumat (12/6/2026), harga minyak mentah jenis Brent jatuh sebesar 3,37 persen atau merosot ke level 87,33 dolar AS per barel setelah sebelumnya bertahan di angka 90,38 dolar AS per barel. Penurunan tajam hingga menyentuh level terendah sejak awal Maret 2026 ini dipicu oleh munculnya sinyal deeskalasi konflik dan rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat membuka kembali jalur perdagangan strategis Selat Hormus.
Meski pasar internasional mengalami kelesuan, harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax di dalam negeri terpantau belum mengalami perubahan signifikan dan masih bertahan di kisaran Rp16.250 per liter. Situasi ini memicu pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai kapan penyesuaian harga domestik akan mengikuti tren global, terutama setelah lonjakan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 pada 10 Juni lalu sempat memicu gelombang migrasi konsumen ke BBM bersubsidi jenis Pertalite.
Menanggapi kondisi tersebut, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia menjelaskan bahwa penurunan harga minyak dunia tidak serta-merta bisa langsung diterapkan pada harga eceran BBM di SPBU. Berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 245 Tahun 2022, formulasi penentuan harga BBM non-subsidi dihitung menggunakan rata-rata harga pasar minyak internasional selama satu bulan ke belakang, bukan harga harian yang bersifat fluktuatif. Pemerintah memastikan penyesuaian turun pasti akan dilakukan oleh badan usaha dalam jangka waktu satu bulan ke depan jika tren penurunan ini konsisten.
Baca juga: Perbandingan Harga Bensin di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, Mana Termurah?
Sependapat dengan Kementerian ESDM, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talatov memaparkan bahwa fluktuasi harga BBM non-subsidi merupakan ranah murni dari kebijakan korporasi badan usaha, baik Pertamina maupun swasta, yang berkoordinasi dengan pemerintah. Abra menambahkan bahwa lonjakan harga pada awal Juni kemarin terjadi karena korporasi sempat menahan harga keekonomian asli Pertamax yang berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 sejak April demi menjaga daya beli masyarakat. Ketika harga global melandai, penyesuaian berkala diprediksi baru akan terlihat pada evaluasi bulan berikutnya.
Di sisi lain, Ekonom Core Indonesia Dipo Satria Ramlee mengingatkan bahwa pemulihan industri minyak pasca-konflik memerlukan waktu transisi yang cukup panjang. Proses pembukaan kembali Selat Hormus secara penuh diperkirakan memakan waktu hingga satu tahun akibat adanya tumpukan antrean kapal dagang serta kebutuhan untuk mengaktifkan kembali sumur-sumur minyak yang sempat mati selama masa ketegangan geopolitik.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan perlindungan bagi kelompok masyarakat rentan dan kelas menengah ke bawah. Di tengah dinamika pasar internasional yang belum sepenuhnya stabil, pemerintah berkomitmen untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar, serta Gas LPG 3 kilogram. Skema bantuan fiskal dan pemberian insentif terus dikaji guna memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan.












