NewsPendidikan

Siswi Tunarungu Karawang Dapat Edukasi Kesehatan Menstruasi

×

Siswi Tunarungu Karawang Dapat Edukasi Kesehatan Menstruasi

Sebarkan artikel ini
Siswi

Karawanghitz, Karawang — Puluhan siswi tunarungu di SLB B Tunas Harapan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengikuti edukasi mengenai kesehatan menstruasi dan kebersihan diri pada Rabu (12/8/2026). Kegiatan bertajuk “Love Your Possibilities: We Can!” tersebut digelar bertepatan dengan Hari Remaja Internasional untuk memperluas akses informasi kesehatan reproduksi yang inklusif bagi remaja penyandang disabilitas.

Edukasi ini dirancang khusus agar remaja putri berkebutuhan khusus memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi disampaikan dengan metode yang menyesuaikan kebutuhan peserta, sehingga informasi mengenai kesehatan reproduksi dapat diterima tanpa hambatan komunikasi yang selama ini menjadi salah satu tantangan dalam pendidikan bagi penyandang disabilitas.

Peringatan Hari Remaja Internasional yang jatuh setiap 12 Agustus menjadi momentum penyelenggara untuk menyoroti pentingnya kesetaraan akses terhadap pendidikan kesehatan. Bagi remaja tunarungu, ketersediaan informasi yang mudah dipahami menjadi bagian penting dalam membantu mereka mengenali kondisi tubuh dan menjaga kebersihan secara mandiri.

Baca juga:
Mau Kuliah di Kampus dengan Jurusan Sistem Informasi Akuntansi Terbaik? Ini 4 Pilihannya

Persoalan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas masih menjadi perhatian. Berdasarkan data Long Form Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2024, lebih dari 75 persen anak penyandang disabilitas di Indonesia belum memperoleh fasilitas pendidikan yang memadai. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap kesempatan mereka mendapatkan pengetahuan kesehatan, termasuk informasi mengenai kesehatan reproduksi dan layanan yang dibutuhkan.

Untuk mengatasi keterbatasan komunikasi, penyelenggara menggunakan berbagai alat bantu visual dan media bergambar selama sesi berlangsung. Guru pendamping juga berperan dalam menerjemahkan materi menggunakan bahasa isyarat agar seluruh penjelasan dapat dipahami oleh peserta secara lebih jelas.

Materi yang diberikan bersifat praktis dan dekat dengan kebutuhan remaja putri. Peserta mendapat penjelasan mengenai cara memilih pembalut sesuai kebutuhan, langkah menjaga kebersihan organ kewanitaan selama menstruasi, serta informasi mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan ketika mengalami siklus bulanan.

Selain itu, peserta diajak mengenali perbedaan antara mitos dan fakta tentang menstruasi. Pemahaman tersebut diperlukan agar remaja tidak hanya mengikuti informasi yang beredar di lingkungan sekitar, tetapi mampu memahami kondisi tubuh berdasarkan pengetahuan kesehatan yang tepat.

Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, dr. Hardi Hermawan, menekankan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan informasi kesehatan. Menurutnya, kebutuhan khusus dalam berkomunikasi tidak seharusnya menjadi alasan bagi anak untuk kehilangan akses terhadap pendidikan kesehatan.

“Anak berkebutuhan khusus tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, termasuk pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, kebersihan saat menstruasi, dan perawatan diri,” ujar Hardi pada Selasa (25/8/2026).

Penyelenggaraan edukasi dengan pendekatan khusus juga diharapkan dapat membantu peserta memahami perubahan fisik yang terjadi selama masa remaja. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk menjaga kesehatan diri sekaligus mengenali kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Presiden Direktur Unicharm Indonesia, Yasutaka Nishioka, mengatakan edukasi kesehatan yang dapat diakses semua kelompok masyarakat merupakan bagian dari upaya mendukung kesejahteraan sosial. Ia menyatakan program serupa akan terus dikembangkan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan kebutuhan kelompok sasaran.

Baca juga:
Rekomendasi Kampus dengan Jurusan Sistem Informasi Terbaik

Keterlibatan guru dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Selain membantu komunikasi melalui bahasa isyarat, guru dapat melanjutkan penyampaian pengetahuan yang telah diperoleh peserta dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Dengan metode visual, pendampingan bahasa isyarat, dan materi yang aplikatif, kegiatan di SLB B Tunas Harapan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswi dalam mengelola kebersihan diri selama menstruasi. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu mereka menjalani masa remaja dengan lebih mandiri dan percaya diri.

Program edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja tunarungu menjadi salah satu upaya memperluas akses informasi yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas. Setelah kegiatan berlangsung, materi yang diberikan dapat diterapkan peserta dalam rutinitas perawatan diri di rumah maupun lingkungan sekolah.