Karawanghitz, Karawang — Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMAN 3 Karawang pada Rabu (6/5/2026). Mengusung tema “Membangun Toleransi yang Cerdas dan Relevan untuk Gen-Z”, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya sikap saling menghargai dalam kehidupan yang beragam, baik dari sisi budaya, agama, maupun sosial.
Program ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Pendidikan Pancasila yang berfokus pada penguatan nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda. Kegiatan dipimpin oleh Irfan Sopandi selaku ketua kelompok bersama lima anggota lainnya, yakni Tarisa Uswa Hazani, Karina Julia Ningsih, Faisal Azriel Maksumi, Elsa Novita Damayanti, dan Siti Hasanah.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, tetapi juga mengajak siswa terlibat dalam berbagai aktivitas interaktif yang dirancang untuk membantu mereka memahami makna toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut dipilih agar materi lebih mudah diterima dan relevan dengan pengalaman yang dihadapi pelajar saat ini.
Baca juga: Jelajah Sejarah Singosari, Puluhan Pemuda Lintas Agama Belajar Toleransi dan Perdamaian
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah diskusi bersama siswa mengenai berbagai bentuk perbedaan yang ditemui di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Para peserta diajak berbagi pengalaman terkait interaksi dengan teman yang memiliki latar belakang, kebiasaan, atau pandangan yang berbeda. Dari diskusi itu, mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pentingnya menyikapi perbedaan dengan sikap terbuka dan saling menghormati.
Selain diskusi, mahasiswa juga mengadakan kegiatan simbolis berupa pembuatan “Pohon Toleransi”. Dalam aktivitas ini, siswa menuliskan pesan atau harapan terkait pentingnya menghargai perbedaan pada kertas berbentuk daun. Seluruh pesan kemudian ditempelkan pada sebuah pohon buatan yang telah disiapkan sebelumnya.
Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk mengekspresikan pandangan mereka mengenai toleransi sekaligus memperkuat kesadaran bahwa terciptanya lingkungan yang harmonis membutuhkan kontribusi dari setiap individu.
Materi yang disampaikan selama kegiatan dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Mahasiswa menggunakan berbagai contoh yang sering ditemui siswa, seperti interaksi di media sosial, pertemanan dengan orang dari latar belakang yang berbeda, hingga perbedaan pendapat dalam proses belajar di kelas.
Melalui contoh-contoh tersebut, peserta diajak memahami bahwa toleransi tidak terbatas pada persoalan agama, tetapi juga mencakup penghormatan terhadap pendapat, kebiasaan, dan cara pandang orang lain. Pendekatan yang kontekstual membuat siswa lebih mudah menghubungkan materi dengan pengalaman yang mereka alami sehari-hari.
Untuk meningkatkan partisipasi peserta, kegiatan juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab interaktif. Siswa yang berhasil menjawab pertanyaan terkait materi toleransi memperoleh hadiah sebagai bentuk apresiasi. Suasana diskusi berlangsung aktif karena banyak peserta yang antusias menyampaikan pendapat maupun menjawab pertanyaan dari pemateri.
Salah seorang siswa yang mengikuti kegiatan mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai makna toleransi. Menurutnya, materi yang disampaikan membantu dirinya melihat bahwa menghargai perbedaan tidak hanya berkaitan dengan keyakinan, tetapi juga sikap terhadap orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Presiden Jerman Apresiasi Toleransi Agama yang Tinggi di Indonesia
“Saya jadi lebih paham bahwa toleransi bukan hanya soal agama, tetapi juga menghargai pendapat dan kebiasaan orang lain. Kegiatannya menarik karena ada diskusi, permainan, dan hadiah,” ujarnya.
Pihak sekolah menyambut positif pelaksanaan program tersebut karena dinilai memberikan ruang bagi siswa untuk memahami nilai-nilai kebangsaan melalui metode yang lebih partisipatif. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat karakter pelajar agar mampu hidup berdampingan dalam lingkungan yang beragam.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama antara mahasiswa dan siswa. Melalui program ini, mahasiswa UBSI berharap nilai toleransi dapat semakin dipahami dan diterapkan oleh generasi muda, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang inklusif, saling menghormati, dan mendukung kehidupan bermasyarakat yang harmonis.












