News

Kampung Tanggap Bencana Perkuat Kesiapsiagaan Warga Mekarbuana

×

Kampung Tanggap Bencana Perkuat Kesiapsiagaan Warga Mekarbuana

Sebarkan artikel ini
Kampung

Karawanghitz, Karawang – Warga Dusun Sirnaruju, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, mengikuti pelatihan dan simulasi Kampung Tanggap Bencana (Katana) sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir bandang dan longsor. Program yang digelar oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Karawang bersama sejumlah pihak terkait tersebut menyasar wilayah yang berada di kaki Gunung Sanggabuana dan dinilai memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.

Sebanyak 25 warga mengikuti simulasi penyelamatan di kawasan aliran Sungai Cigentis, salah satu sungai besar yang berhulu di Pegunungan Sanggabuana. Kegiatan yang berlangsung sejak Kamis, 6 Agustus 2026, itu menjadi bagian dari pembekalan masyarakat agar mampu mengambil langkah cepat dan tepat ketika bencana terjadi.

Kepala Desa Mekarbuana, Jaji Maryono, menjelaskan bahwa kondisi geografis desanya menjadikan sejumlah wilayah memiliki risiko bencana yang perlu mendapat perhatian. Desa Mekarbuana merupakan desa yang berada di bagian paling selatan Kabupaten Karawang, dengan karakter wilayah berupa perbukitan dan lembah yang berdekatan dengan aliran sungai.

Baca juga:
Siapa Cak Sholeh? Pengacara Sekaligus Pendiri No Viral No Justice Pembela ‘Wong Cilik’, Meninggal Dunia

Menurutnya, Dusun Sirnaruju menjadi salah satu kawasan yang paling rentan karena sebagian besar permukiman warga berada di dataran rendah yang dekat dengan sumber air. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya banjir bandang maupun tanah longsor, terutama saat curah hujan tinggi.

“Wilayah kami memiliki potensi bencana, terutama di Dusun Sirnaruju. Karena banyak rumah warga berada di lembah yang dekat dengan aliran sungai, masyarakat perlu memiliki pengetahuan tentang cara menghadapi situasi darurat,” ujar Jaji.

Dusun Sirnaruju sendiri dihuni sekitar 1.100 jiwa dan menjadi dusun dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Desa Mekarbuana yang terdiri atas empat dusun. Dengan jumlah penduduk yang cukup banyak, peningkatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi kebutuhan penting agar dampak bencana dapat diminimalkan.

Jaji mengungkapkan, berdasarkan pengalaman yang terjadi selama bertahun-tahun, wilayah tersebut memiliki pola kejadian bencana yang berulang dalam rentang sekitar satu dekade. Banjir bandang biasanya dipicu hujan berintensitas tinggi yang berlangsung lebih dari dua jam.

Ia mengingat kembali peristiwa banjir bandang besar yang terjadi pada tahun 2003. Saat itu, debit air Sungai Cigentis meningkat drastis hingga meluap ke jalan dan mengubah kawasan permukiman menjadi aliran air deras. Bahkan, pohon berukuran sangat besar ikut tumbang dan terbawa arus hingga ke depan Warung Wakil Enim, salah satu rumah makan yang dikenal masyarakat setempat.

Pengalaman tersebut menjadi alasan pemerintah desa menyambut baik pelaksanaan program Kampung Tanggap Bencana. Menurut Jaji, masyarakat tidak cukup hanya mengetahui bahwa wilayahnya rawan bencana, tetapi juga harus memahami langkah penyelamatan diri, membantu keluarga, serta mengevakuasi tetangga ketika kondisi darurat terjadi.

“Kami berharap warga sudah memiliki kesiapan sebelum bencana datang. Dengan begitu, tindakan yang dilakukan nantinya tidak lagi berdasarkan kepanikan, tetapi sesuai prosedur yang telah dipelajari,” katanya.

Selama pelatihan berlangsung, peserta memperoleh materi mengenai mitigasi bencana, pengenalan potensi risiko di lingkungan sekitar, teknik evakuasi, hingga simulasi penyelamatan korban banjir bandang dan longsor. Simulasi dilakukan secara langsung di sekitar aliran Sungai Cigentis agar peserta dapat memahami kondisi lapangan yang sesungguhnya.

Ketua Baznas Karawang, Kamin, mengatakan pembentukan Kampung Tanggap Bencana merupakan bagian dari program nasional Baznas yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana alam, terutama di daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Menurutnya, keberadaan warga yang terlatih akan membantu mempercepat penanganan awal ketika bencana terjadi sebelum bantuan dari instansi terkait tiba di lokasi. Karena itu, pelatihan tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik lapangan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat.

Baca juga:
ASN di Bandung Barat Viral Live TikTok Terancam Dimutasi, Sudah Ditegur Atasan

“Kami ingin masyarakat memiliki kemampuan dasar dalam mitigasi, evakuasi, dan penyelamatan sehingga mereka dapat bertindak lebih cepat saat menghadapi situasi darurat,” ujar Kamin.

Ia menambahkan, Desa Mekarbuana menjadi lokasi pertama di Kabupaten Karawang yang mendapatkan program Kampung Tanggap Bencana dari Baznas. Ke depan, program serupa direncanakan diperluas ke desa-desa lain yang memiliki karakteristik rawan bencana, dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran dan kebutuhan di masing-masing wilayah.

Melalui pelatihan tersebut, pemerintah desa bersama Baznas berharap masyarakat tidak hanya memahami potensi ancaman yang ada di lingkungannya, tetapi juga mampu membangun budaya siaga bencana. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan koordinasi yang lebih baik, warga diharapkan dapat mengurangi risiko korban maupun kerugian apabila banjir bandang atau longsor kembali terjadi di kawasan kaki Gunung Sanggabuana.