
Karawang, Karawanghitz — Fenomena living together atau tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan kembali menjadi perbincangan di sejumlah kalangan masyarakat Indonesia. Praktik tersebut dinilai sebagai bagian dari perubahan gaya hidup yang berkembang di era modern, namun juga memunculkan perbedaan pandangan terkait norma sosial, agama, dan aturan hukum yang berlaku.
Di beberapa kota besar, praktik tinggal bersama tanpa pernikahan kerap dikaitkan dengan pengaruh budaya global dan perubahan pola relasi generasi muda. Meski demikian, sebagian kalangan menilai praktik tersebut bertentangan dengan nilai yang selama ini dianut masyarakat Indonesia.
Perbedaan pandangan tersebut memunculkan diskusi di ruang publik, termasuk di kalangan generasi muda. Muhammad Ramadhan Meida Putra (18) menyampaikan pandangannya terkait fenomena tersebut. Ia mengaku tidak setuju dengan praktik living together karena dinilai tidak sesuai dengan norma sosial dan agama.
“Saya tidak setuju dengan praktik living together karena menurut saya bertentangan dengan norma sosial dan agama,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa (24/2).
Menurut Rama, kebebasan individu tetap memiliki batas ketika berkaitan dengan aturan yang berlaku di masyarakat. Ia menilai bahwa perubahan gaya hidup sebaiknya tetap mempertimbangkan norma yang telah lama menjadi pedoman sosial.
Rama juga menyoroti aspek legalitas dalam praktik tersebut. Ia menyebut bahwa di Indonesia terdapat aturan hukum yang mengatur kehidupan bersama di luar pernikahan, sehingga praktik tersebut tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi hukum.
“Saya menolak menormalisasikan tindakan living together karena menurut saya tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena ini tidak hanya menyangkut pilihan pribadi, tetapi juga berdampak pada pandangan sosial di lingkungan sekitar. Menurutnya, respons masyarakat terhadap praktik tersebut menunjukkan bahwa isu ini masih sensitif dan belum sepenuhnya diterima.
Baca Juga: Generasi Muda Ketakutan Bikin Angka Pernikahan Jadi Turun, Apa Penyebabnya?
Di sisi lain, fenomena living together kerap dikaitkan dengan perubahan pola pikir generasi muda terhadap relasi dan komitmen. Namun, Rama menilai bahwa setiap perubahan tetap perlu disikapi dengan mempertimbangkan nilai yang berlaku di Indonesia.
“Menurut saya, praktik tersebut tidak sesuai dengan norma yang berlaku di Indonesia,” tuturnya.
Perbincangan mengenai living together menunjukkan adanya dinamika sosial di tengah masyarakat. Perbedaan pandangan yang muncul mencerminkan keberagaman cara pandang terhadap perubahan gaya hidup yang berkembang saat ini.
Fenomena ini terus memunculkan tanggapan dari berbagai kalangan, seiring perubahan sosial yang berlangsung dan perbedaan interpretasi terhadap batasan norma serta kebebasan individu.












