News

Petani Karangligar Rogoh Rp30 Juta Bangun Bendungan Swadaya

×

Petani Karangligar Rogoh Rp30 Juta Bangun Bendungan Swadaya

Sebarkan artikel ini
Karangligar

Karawanghitz, Karawang – Puluhan petani di Dusun Ciberem, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, kembali harus mengeluarkan dana swadaya untuk membangun bendungan sementara demi menjaga pasokan air ke lahan pertanian mereka. Sebanyak 60 petani patungan hingga Rp30 juta agar sekitar 40 hektare sawah yang terdampak kekeringan tetap dapat dialiri air. Mereka berharap pemerintah segera membangun bendungan permanen agar persoalan pengairan tidak terus berulang setiap musim tanam.

Pembangunan bendungan sementara dilakukan setelah bendungan di Sungai Cidawolong, yang selama ini menjadi sumber utama pengairan, mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat distribusi air ke areal persawahan terhambat sehingga petani harus mencari solusi secara mandiri agar proses tanam tetap dapat berlangsung.

Ketua Kelompok Tani, H. Bidin, mengatakan bahwa pembangunan bendungan sementara menjadi langkah yang paling memungkinkan dilakukan dalam situasi saat ini. Menurutnya, meski bersifat sementara, bendungan tersebut mampu membantu mengalirkan air ke sawah sehingga petani masih dapat mengolah lahan mereka.

Baca juga:
Siapa Penyebar Narasi Demonstrasi Kerusuhan Agustus 2026

Ia menjelaskan, bendungan di Sungai Cidawolong sebelumnya dibangun pada 2020. Namun, bangunan tersebut hanya mampu bertahan sekitar satu tahun sebelum akhirnya rusak. Sejak saat itu, petani harus berulang kali membangun bendungan darurat dengan biaya yang ditanggung sendiri.

“Setiap musim kami kembali membangun bendungan secara swadaya karena itu menjadi cara paling efektif untuk mengalirkan air ke sawah. Jika tidak dilakukan, lahan pertanian akan kesulitan mendapatkan pasokan air,” ujar Bidin.

Menurutnya, setiap pembangunan bendungan sementara membutuhkan anggaran sekitar Rp30 juta. Dana tersebut dikumpulkan dari para petani yang bergantung pada saluran irigasi tersebut untuk mengairi lahan mereka.

Bidin menilai kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat sektor pertanian menjadi salah satu penopang ketahanan pangan. Di sisi lain, petani masih harus menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan infrastruktur pengairan yang hingga kini belum memperoleh solusi permanen.

Berbagai cara sebenarnya telah dicoba untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian. Salah satunya dengan menggunakan pompa air. Namun, metode tersebut dinilai tidak efisien karena memerlukan biaya operasional yang tinggi, terutama untuk bahan bakar.

Selain itu, penggunaan pompa juga menghadirkan kendala lain. Peralatan harus dijaga selama beroperasi agar tidak hilang, sementara debit air yang dihasilkan belum tentu mampu menjangkau seluruh areal persawahan yang membutuhkan pasokan.

Bidin mengaku telah mengeluarkan dana sekitar Rp15 juta untuk membeli berbagai peralatan pendukung, termasuk kabel dan perangkat lainnya yang diperlukan dalam pengoperasian pompa. Meski demikian, upaya tersebut belum mampu mengatasi persoalan distribusi air secara menyeluruh.

“Pompa air membutuhkan biaya bahan bakar yang besar. Selain itu, alatnya harus terus diawasi karena khawatir hilang. Air yang dipompa pun belum tentu cukup untuk mengairi seluruh sawah,” katanya.

Karena itu, para petani kembali menyuarakan harapan agar pemerintah membangun bendungan permanen di Sungai Cidawolong. Mereka menilai keberadaan infrastruktur yang lebih kokoh akan menjadi solusi jangka panjang sekaligus mengurangi beban biaya yang selama ini harus ditanggung petani setiap tahun.

Dengan adanya bendungan permanen, petani berharap pasokan air dapat lebih stabil sehingga aktivitas bercocok tanam tidak lagi bergantung pada pembangunan bendungan darurat yang hanya bertahan dalam waktu singkat.

Salah seorang petani, Olim Subarjah, turut meminta perhatian pemerintah, termasuk Gubernur Jawa Barat, terhadap kondisi yang dihadapi petani di wilayah tersebut. Ia berharap pembangunan bendungan dilakukan dengan konstruksi yang kuat sehingga mampu digunakan dalam jangka panjang.

Menurut Olim, bendungan sementara yang dibangun secara swadaya hanya menjadi solusi sesaat. Ketika bangunan kembali rusak, petani harus mengeluarkan biaya besar untuk membangunnya lagi, sehingga persoalan yang sama terus berulang dari tahun ke tahun.

Baca juga: BPJS Kesehatan Tegaskan Hak Peserta JKN, Usai Viral Pasien Antre 8 Jam

“Kami berharap pemerintah membangun bendungan permanen dengan konstruksi yang baik sehingga bisa bertahan lama. Dengan begitu, petani tidak perlu terus mengeluarkan biaya besar setiap musim tanam,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketersediaan air menjadi faktor utama dalam keberlangsungan produksi padi. Tanpa pasokan air yang memadai, petani tidak dapat mengolah lahan maupun menanam padi, yang pada akhirnya berdampak pada hasil panen dan penghasilan mereka.

Menurut Olim, keberadaan bendungan permanen bukan hanya membantu petani menjaga produktivitas lahan, tetapi juga memberikan kepastian dalam menjalankan musim tanam. Ia berharap pemerintah dapat segera merealisasikan pembangunan infrastruktur tersebut agar petani tidak lagi menghadapi kesulitan yang sama setiap tahunnya.