Karawanghitz, Karawang – Jeslyn Kristina, 18 tahun, warga Desa Cemara Jaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah melewati berbagai keterbatasan. Kini, mahasiswa S1 Sistem Informasi Akuntansi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Karawang tersebut tercatat sebagai penerima beasiswa dan mampu mempertahankan Indeks Prestasi (IP) 4,00 selama dua semester.
Bagi Jeslyn, kesempatan menempuh pendidikan tinggi tidak datang dengan mudah. Sebagai anak desa, ia sempat merasa minder dan meragukan kemampuan dirinya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Keinginan untuk kuliah bahkan pernah dianggapnya sebagai sesuatu yang sulit diwujudkan karena kondisi yang dimiliki.
Keraguan tersebut kemudian ia hadapi dengan terus belajar, berdoa, berusaha, serta berani mengambil kesempatan yang datang. Langkah itu akhirnya membawanya menjadi mahasiswa UBSI Kampus Karawang sekaligus memperoleh dukungan melalui program beasiswa.
Baca juga:
Kata Deddy Corbuzier, Kuliah Itu Nggak Penting dan Bikin Milenial Mengalami ‘Postponing Reality’
“Dulu saya sempat berpikir bahwa kuliah mungkin sulit saya capai. Saya juga pernah merasa minder karena berasal dari desa. Namun, saya belajar bahwa kondisi saat ini tidak menentukan masa depan seseorang,” ujar Jeslyn.
Beasiswa yang diterimanya tidak hanya dipandang sebagai bantuan biaya pendidikan. Jeslyn menganggap kesempatan tersebut sebagai kepercayaan yang harus dijaga dengan kesungguhan dalam menjalani perkuliahan dan mengembangkan kemampuan diri.
Keseriusan itu terlihat dari capaian akademiknya. Selama dua semester, Jeslyn berhasil mempertahankan Kartu Hasil Studi (KHS) dengan IP 4,00. Prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya sekaligus mendorongnya untuk terus meningkatkan kemampuan, baik di bidang akademik maupun kegiatan di luar perkuliahan.
Pada 2026, Jeslyn juga mendapat kesempatan mengikuti BSI Explore 2026. Kegiatan tersebut memberinya pengalaman untuk belajar bersama masyarakat dan melihat berbagai kondisi kehidupan secara langsung.
Menurut Jeslyn, pengalaman itu memperluas pandangannya mengenai makna pendidikan. Baginya, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak hanya berkaitan dengan pencapaian pribadi, tetapi juga dapat digunakan untuk memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
“BSI Explore 2026 memberi saya pengalaman yang sangat berarti. Saya bisa belajar langsung bersama masyarakat dan melihat bahwa ilmu serta kesempatan yang kita punya akan lebih bermakna jika bisa dimanfaatkan untuk membantu orang lain,” katanya.
Pengalaman tersebut membuat Jeslyn ingin terus mengembangkan diri melalui kegiatan akademik, organisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian kepada masyarakat. Ia menilai berbagai pengalaman tersebut penting untuk membentuk kemampuan sekaligus karakter sebelum menghadapi dunia setelah lulus kuliah.
Di balik pencapaiannya, Jeslyn mengakui bahwa tantangan yang paling sering dihadapi justru berasal dari dirinya sendiri. Ia pernah merasa takut gagal, lelah, serta membandingkan pencapaiannya dengan orang lain.
“Pernah saya merasa lelah dan takut gagal. Saya juga sempat bertanya apakah saya mampu menjalani semuanya. Tetapi saya kembali mengingat alasan saya memulai dan mengapa saya memilih untuk terus berjuang,” tutur Jeslyn.
Saat rasa lelah muncul, ia memilih beristirahat dan kembali menata diri sebelum melanjutkan aktivitas. Menurutnya, keberanian untuk bangkit bukan berarti seseorang tidak pernah takut atau lelah.
“Bangkit bukan berarti tidak pernah merasa lelah atau takut. Bangkit berarti tetap memilih berjalan meskipun rasa takut itu masih ada,” ujarnya.
Ke depan, Jeslyn tidak hanya menargetkan penyelesaian pendidikan tinggi. Ia ingin memiliki kompetensi dan karakter yang dapat digunakan untuk memberi manfaat bagi orang lain. Ia juga berencana memperkuat kemampuan akademik dan nonakademik, menambah pengalaman kepemimpinan, serta terlibat dalam kegiatan pengabdian.
Baca juga:
Tujuan Kuliah adalah Mengembangkan Pola Pikir, Bukan Mencari Uang
Jeslyn berharap suatu saat dapat membantu orang lain yang memiliki kondisi serupa dengan dirinya. Ia ingin orang-orang dari keluarga sederhana atau daerah pedesaan tetap berani mengejar pendidikan meski menghadapi keterbatasan.
“Saya berharap perjalanan saya bisa mengingatkan siapa pun yang berasal dari keluarga sederhana, tinggal di desa, atau merasa memiliki keterbatasan bahwa mereka tetap boleh memiliki mimpi dan berusaha mendapatkan pendidikan,” kata Jeslyn.
Perjalanan Jeslyn dari Desa Cemara Jaya hingga menjadi mahasiswa penerima beasiswa menjadi bagian dari proses panjang yang masih terus dijalaninya. Setelah mempertahankan IP 4,00 dan mengikuti BSI Explore 2026, ia kini melanjutkan perkuliahan sambil mempersiapkan kemampuan serta pengalaman untuk langkah berikutnya.












