Dunia UsahaNewsPendidikan

Petani Kampung Cibadak Kembangkan Kencur Meski Terbatas Air

×

Petani Kampung Cibadak Kembangkan Kencur Meski Terbatas Air

Sebarkan artikel ini
Petani

Karawanghitz, Kabupaten Bekasi – Petani di Kampung Cibadak, Desa Karang Indah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, tetap mengembangkan budidaya kencur meski menghadapi keterbatasan sumber air. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran lapangan Tim BSI Explore 2026 yang mengunjungi kawasan pertanian untuk mengenali potensi lokal sekaligus memahami cara masyarakat menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi lingkungan.

Kunjungan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) tersebut mempertemukan mereka dengan petani setempat untuk melihat secara langsung proses budidaya kencur, kondisi lahan, serta berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat. Dari interaksi tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai bagaimana petani memanfaatkan sumber daya yang tersedia berdasarkan pengalaman dan kondisi alam di wilayahnya.

Budidaya kencur menjadi salah satu kegiatan yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Kampung Cibadak. Tanaman tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan rempah serta digunakan dalam berbagai kebutuhan tradisional. Bagi petani setempat, kencur tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan penghidupan melalui potensi pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar.

Baca juga:
Kata Deddy Corbuzier, Kuliah Itu Nggak Penting dan Bikin Milenial Mengalami ‘Postponing Reality’

Keterbatasan air menjadi salah satu kondisi yang harus dihadapi petani dalam mengelola lahan. Namun, keadaan tersebut tidak serta-merta menghentikan aktivitas pertanian. Masyarakat menyesuaikan cara pengelolaan lahan dengan kondisi lingkungan dan pengalaman yang telah mereka miliki. Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari kemampuan petani dalam menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian di wilayah mereka.

Dalam kunjungan itu, mahasiswa berdialog langsung dengan petani untuk mendapatkan informasi mengenai proses pengelolaan tanaman. Percakapan tersebut tidak hanya membahas aktivitas bercocok tanam, tetapi juga kondisi lingkungan yang memengaruhi pekerjaan warga. Mahasiswa dapat melihat bahwa persoalan sumber daya di lapangan membutuhkan kemampuan beradaptasi yang tidak selalu terlihat dalam pembelajaran secara teoritis.

Amil, salah seorang petani kencur di Kampung Cibadak, mengatakan keterbatasan wilayah tidak mengurangi rasa bangga masyarakat terhadap kampung tempat mereka tinggal. Ia menilai warga tetap memiliki alasan untuk optimistis karena mampu mengelola potensi yang tersedia.

“Walaupun kampung kami kecil dan berada di ujung, kami adalah kampung yang paling makmur,” kata Amil.

Pernyataan tersebut menunjukkan cara pandang masyarakat terhadap kondisi kampungnya. Letak geografis dan luas wilayah tidak menjadi satu-satunya ukuran dalam melihat perkembangan sebuah daerah. Kemampuan warga mengelola lahan, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, serta menjaga aktivitas pertanian turut berperan dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Bagi mahasiswa UBSI, kunjungan ke lahan kencur memberikan pengalaman untuk memahami keterkaitan antara potensi pertanian, kondisi lingkungan, dan kehidupan sosial. Mereka tidak hanya mengamati hasil pertanian, tetapi juga mempelajari proses yang dilakukan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan sumber daya.

Pengalaman tersebut memperluas pemahaman mahasiswa mengenai pengembangan desa. Pembangunan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur, tetapi juga mencakup kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola potensi yang telah dimiliki. Pengetahuan mengenai kondisi lokal menjadi penting agar pengembangan program dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Interaksi antara mahasiswa dan petani juga membuka ruang pertukaran pengalaman. Mahasiswa dapat mendengarkan langsung persoalan yang dihadapi warga, sementara pengalaman masyarakat menjadi bahan pembelajaran mengenai praktik pengelolaan potensi lokal. Pola interaksi tersebut menjadi bagian dari pendekatan BSI Explore 2026 dalam menjalankan kegiatan pengabdian di desa.

Baca juga:
Tujuan Kuliah adalah Mengembangkan Pola Pikir, Bukan Mencari Uang

BSI Explore 2026 merupakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan UBSI pada 5–25 Agustus 2026. Program tersebut menempatkan peserta dalam tim di 38 desa mitra. Setiap tim terdiri atas enam mahasiswa dan mendapatkan pendampingan dari seorang Dosen Pendamping Lapangan (DPL) untuk mendukung pelaksanaan program kerja serta luaran kegiatan.

Tim yang bertugas di Desa Karang Indah dipimpin Kohar Hanapi dengan anggota Aulia Rahma Suryani, Derina Rizkia Zahra, Fazryan Syauqi, Laura Syahnanda Zulfia, dan Nurulita Khusnul Khotimah. Kehadiran mereka menjadi bagian dari proses pembelajaran langsung melalui interaksi dengan masyarakat dan pengamatan terhadap potensi desa.

Dari lahan pertanian kencur di Kampung Cibadak, mahasiswa melihat bagaimana petani mempertahankan kegiatan ekonomi dengan menyesuaikan diri terhadap keterbatasan lingkungan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu catatan lapangan tim dalam mengenali potensi dan kondisi masyarakat Desa Karang Indah selama rangkaian BSI Explore 2026 berlangsung.