Karawanghitz, Kabupaten Bekasi – Bah Karta, perajin anyaman bambu di Desa Karang Indah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, masih mempertahankan keterampilan membuat kerajinan tradisional meski produk berbahan plastik semakin banyak digunakan masyarakat. Selama sekitar satu tahun terakhir, ia menjalankan usaha anyaman bambu secara manual dan menjadikannya salah satu sumber penghasilan sekaligus keterampilan yang ingin terus diwariskan.
Kisah Bah Karta ditemukan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) saat melakukan observasi dalam rangkaian BSI Explore 2026. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengenali potensi lokal Desa Karang Indah sekaligus memahami kondisi usaha masyarakat secara langsung, termasuk tantangan yang dihadapi pelaku kerajinan tradisional dalam mempertahankan produksinya.
Mahasiswa mengunjungi rumah produksi Bah Karta dan mengamati proses pembuatan kerajinan. Di tempat tersebut, bambu yang telah dipotong dan dihaluskan disiapkan untuk kemudian dianyam menjadi berbagai kebutuhan rumah tangga. Seluruh proses masih dikerjakan menggunakan tangan, sehingga setiap produk memiliki bentuk dan karakter tersendiri.
Baca juga:
Tujuan Kuliah adalah Mengembangkan Pola Pikir, Bukan Mencari Uang
Beberapa produk yang dibuat Bah Karta antara lain ilir atau kipas bambu dan kurungan ayam. Ilir dijual sekitar Rp5.000 per buah, sedangkan kurungan ayam dipasarkan dengan harga sekitar Rp35.000. Produksi dilakukan berdasarkan pesanan karena sebagian besar pembeli datang secara langsung dan belum melalui sistem pemasaran di pasar atau toko.
“Kalau sekarang kebanyakan sistemnya pesan dulu. Saya tidak menitipkan barang ke pasar karena menyesuaikan permintaan. Jadi, kalau ada yang pesan, baru saya buatkan,” ujar Bah Karta saat berbincang dengan peserta BSI Explore.
Sistem produksi berdasarkan pesanan membuat jumlah kerajinan yang dibuat menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Cara tersebut juga menjadi pilihan Bah Karta dalam menjalankan usahanya dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang dihadapi. Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat turut memengaruhi permintaan terhadap produk anyaman bambu.
Penggunaan berbagai perlengkapan berbahan plastik menjadi salah satu tantangan bagi perajin. Produk modern dinilai lebih praktis dan mudah ditemukan sehingga sebagian masyarakat mulai meninggalkan sejumlah perlengkapan tradisional. Namun, Bah Karta tetap mempertahankan keahliannya karena melihat anyaman bambu tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga mengandung nilai budaya.
Ia berharap keterampilan tersebut masih dapat dipelajari oleh generasi muda. Menurutnya, keberlanjutan kerajinan bambu sangat bergantung pada adanya penerus yang bersedia mempelajari proses pembuatannya.
“Saya berharap masih ada generasi muda yang mau belajar membuat anyaman bambu. Kalau tidak diteruskan, lama-lama keterampilan ini bisa hilang. Padahal, anyaman bambu adalah warisan yang sudah ada sejak dulu,” katanya.
Bagi mahasiswa UBSI, kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi usaha mikro yang bergerak di bidang kerajinan tradisional. Selain mempelajari proses produksi, mahasiswa dapat melihat sejumlah persoalan yang perlu dihadapi perajin, mulai dari pemasaran, regenerasi pengrajin, hingga persaingan dengan barang produksi pabrikan.
Hasil observasi juga menunjukkan adanya peluang pengembangan pada aspek pemasaran. Produk anyaman bambu yang selama ini mengandalkan pesanan langsung dapat diperkenalkan melalui media sosial dan platform perdagangan elektronik. Dokumentasi produk, inovasi desain, serta strategi pemasaran digital menjadi beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk memperluas jangkauan pasar.
Meski demikian, pengembangan tersebut perlu tetap memperhatikan karakter tradisional produk. Nilai budaya dan keterampilan manual yang menjadi ciri khas anyaman bambu dapat dipertahankan sambil menyesuaikan bentuk maupun cara pemasaran dengan kebutuhan konsumen saat ini.
Interaksi mahasiswa dengan Bah Karta juga menjadi bagian dari pembelajaran mengenai potensi masyarakat. Observasi tidak berhenti pada pencatatan jenis usaha, tetapi memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendengarkan pengalaman pelaku usaha dan memahami persoalan yang muncul dalam mempertahankan kerajinan lokal.
Baca juga:
Kata Deddy Corbuzier, Kuliah Itu Nggak Penting dan Bikin Milenial Mengalami ‘Postponing Reality’
BSI Explore 2026 merupakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan UBSI pada 5–25 Agustus 2026. Program tersebut menempatkan mahasiswa terpilih dalam tim di 38 desa mitra untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan. Setiap tim didampingi seorang Dosen Pendamping Lapangan (DPL).
Tim BSI Explore 2026 di Desa Karang Indah dipimpin Kohar Hanapi dengan anggota Aulia Rahma Suryani, Derina Rizkia Zahra, Fazryan Syauqi, Laura Syahnanda Zulfia, dan Nurulita Khusnul Khotimah. Selama kegiatan, mereka melakukan observasi terhadap berbagai potensi dan aktivitas masyarakat sebagai bagian dari proses pengabdian.
Dari rumah produksi sederhana Bah Karta, mahasiswa menemukan cerita tentang keterampilan yang masih dijalankan secara manual dan bertahan melalui sistem pesanan. Anyaman bambu yang dihasilkan bukan hanya menjadi barang kebutuhan, tetapi juga membawa keterampilan yang telah dikenal masyarakat sejak lama untuk terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.












