Karawanghitz, Karawang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karawang berencana membentuk Mualaf Center sebagai pusat pembinaan bagi para mualaf seiring meningkatnya jumlah warga negara asing (WNA) yang memeluk Islam di wilayah tersebut. Kehadiran lembaga ini diharapkan dapat memberikan pendampingan keagamaan yang lebih terarah, berkelanjutan, dan tidak berhenti hanya pada prosesi pengucapan dua kalimat syahadat.
Ketua MUI Kabupaten Karawang, KH Tajuddin Nur, mengatakan bahwa hingga saat ini MUI belum memiliki pusat pembinaan khusus bagi para mualaf. Selama ini, proses pendampingan setelah seseorang memeluk Islam masih dilakukan secara sederhana dengan melibatkan keluarga, saksi, pengurus MUI, serta tokoh masyarakat di lingkungan sekitar.
Menurut Tajuddin, pembentukan Mualaf Center menjadi salah satu kebutuhan yang mulai dirasakan karena jumlah mualaf, terutama dari kalangan warga negara asing, terus bertambah. MUI pun berencana menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) agar program pembinaan dapat berjalan lebih optimal, mulai dari pendalaman akidah, pembelajaran ibadah, hingga pendampingan sosial bagi para mualaf.
Baca juga:
Di Balik Isu Viral, Penguatan Sistem Rujukan dan Transparansi Layanan Jadi Kunci
“Kami berharap Mualaf Center dapat menjadi tempat yang memberikan pembinaan agama secara berkelanjutan. Selain itu, para mualaf juga memiliki ruang untuk saling bertemu, berbagi pengalaman, dan mempererat hubungan persaudaraan,” ujar KH Tajuddin.
Ia menjelaskan, lembaga tersebut nantinya tidak hanya difungsikan sebagai tempat belajar dasar-dasar ajaran Islam, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi bagi para mualaf, baik warga Indonesia maupun warga negara asing yang menetap di Indonesia. MUI berencana mengadakan pertemuan rutin agar para mualaf tetap mendapatkan bimbingan setelah proses syahadat.
Rencana pembentukan Mualaf Center muncul di tengah meningkatnya jumlah warga negara asing yang datang ke kantor MUI Karawang untuk menyatakan keislamannya. Berdasarkan data MUI Kabupaten Karawang, hampir setiap bulan terdapat WNA yang mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan pengurus MUI.
Dari keseluruhan mualaf yang didampingi MUI Karawang, sekitar 30 persen merupakan warga negara asing. Mereka berasal dari berbagai negara, di antaranya China, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Jerman, dan Finlandia. Kehadiran para mualaf dari berbagai negara tersebut menjadi salah satu fenomena yang cukup menonjol dalam beberapa tahun terakhir.
KH Tajuddin mengungkapkan bahwa alasan WNA memeluk Islam tidak selalu berkaitan dengan pernikahan. Sebagian memang memilih menjadi mualaf karena akan menikah dengan warga Indonesia. Namun, ada pula yang mengaku tertarik mempelajari Islam setelah berinteraksi dengan masyarakat Muslim selama tinggal di Indonesia atau karena memperoleh hidayah.
Ia mencontohkan salah seorang warga negara Korea Selatan yang tetap menjalankan ajaran Islam meskipun pada akhirnya tidak jadi menikah dengan warga Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan menjadi mualaf tidak selalu didorong oleh kepentingan administratif maupun hubungan pribadi.
“Masing-masing orang memiliki latar belakang yang berbeda. Kami memilih berprasangka baik karena pada akhirnya hidayah adalah hak Allah SWT. Yang terpenting, setelah memeluk Islam mereka tetap mendapatkan pendampingan agar mampu memahami ajaran agama dengan baik,” kata Tajuddin.
Selain faktor hidayah, Tajuddin menilai keramahan masyarakat Indonesia turut memberikan kesan positif bagi warga negara asing yang tinggal di Tanah Air. Interaksi yang terbuka dengan masyarakat Muslim dinilai menjadi salah satu alasan mengapa banyak WNA mulai tertarik mengenal Islam lebih jauh sebelum akhirnya memutuskan menjadi mualaf.
Fenomena bertambahnya jumlah mualaf juga tidak hanya terjadi di Kabupaten Karawang. Berdasarkan komunikasi yang dilakukan MUI dengan pengurus di sejumlah daerah di Jawa Barat, proses pengislaman warga negara asing maupun warga non-Muslim Indonesia juga cukup sering ditemukan di Sukabumi, Indramayu, dan Tasikmalaya.
Melihat perkembangan tersebut, MUI Karawang berharap Mualaf Center nantinya dapat menjadi model pembinaan yang lebih komprehensif bagi para mualaf. Melalui program pembinaan yang terstruktur, para mualaf diharapkan memperoleh pemahaman agama yang lebih mendalam, mampu menjalankan ibadah dengan baik, serta memiliki lingkungan yang mendukung proses belajar mereka sebagai Muslim.
Saat ini, rencana pembentukan Mualaf Center masih dalam tahap persiapan dan penjajakan kerja sama dengan Baznas. MUI Karawang berharap dukungan dari berbagai pihak dapat mempercepat realisasi program tersebut sehingga pelayanan dan pembinaan bagi para mualaf, baik warga Indonesia maupun warga negara asing, dapat berlangsung secara lebih terarah dan berkesinambungan.












