Literasi SekolahNews

Akeyla Naraya Bawa Batik Karawang ke World Nomad Games

×

Akeyla Naraya Bawa Batik Karawang ke World Nomad Games

Sebarkan artikel ini
Akeyla

Karawanghitz, Karawang — Perancang busana muda asal Kabupaten Karawang, Akeyla Naraya, akan membawa batik khas daerahnya ke panggung internasional melalui ajang World Nomad Games 2026 di Kyrgyzstan. Dalam agenda yang berlangsung atas undangan resmi Kementerian Kebudayaan Kyrgyzstan tersebut, Akeyla akan menampilkan koleksi batik yang menggabungkan unsur budaya Nusantara dengan konsep sustainable and green fashion.

Akeyla dijadwalkan berangkat dari Indonesia pada 26 Agustus 2026 untuk mengikuti rangkaian kegiatan hingga 12 September 2026. Adapun agenda utama World Nomad Games 2026 berlangsung pada 31 Agustus sampai 6 September 2026. Perhelatan tersebut menjadi ruang bagi Akeyla untuk memperkenalkan karya berbasis budaya Indonesia kepada audiens dari berbagai negara.

Pendiri Kreasi Tuli Indonesia (KTI) sekaligus ibu Akeyla, Inaraya, mengatakan keterlibatan putrinya dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses panjang memperkenalkan budaya Indonesia melalui industri kreatif. Menurutnya, undangan pemerintah Kyrgyzstan juga membuka ruang bagi talenta muda Indonesia untuk terlibat dalam pertukaran budaya antarnegara.

Baca juga:
Mau Kuliah di Kampus dengan Jurusan Sistem Informasi Akuntansi Terbaik? Ini 4 Pilihannya

Untuk penampilannya di Kyrgyzstan, Akeyla menyiapkan tiga motif batik. Salah satunya adalah Ayam Ciparage, motif yang dikenal sebagai salah satu identitas visual batik Karawang. Selain motif tersebut, ia membawa koleksi terbaru berjudul Flower of Java yang menjadi tema utama rancangan yang dipersiapkan untuk panggung internasional itu.

Motif Flower of Java memiliki keterkaitan dengan pengalaman pribadi Akeyla ketika masih kecil. Coraknya terinspirasi dari suasana lingkungan rumah yang banyak ditumbuhi tanaman serta kehidupan keluarganya yang memiliki kedekatan dengan seni pertunjukan.

“Flower of Java saya ambil dari kenangan masa kecil di rumah. Ibu senang menanam pohon, sedangkan ayah saya seorang penari. Karena itu, saya mencoba menggambarkan lingkungan tempat saya tumbuh melalui warna-warna alam dan karakter gerak tari Indonesia,” ujar Akeyla pada Jumat (21/8/2026).

Konsep tersebut kemudian diterapkan melalui perpaduan motif bunga Nusantara, palet warna yang mengambil inspirasi dari alam, serta siluet busana tradisional yang disesuaikan dengan karakter gerakan tari. Rancangan Akeyla tidak hanya berfokus pada tampilan visual, tetapi juga mengusung gagasan mode berkelanjutan dan ramah lingkungan.

World Nomad Games bukan pengalaman internasional pertama bagi Akeyla. Sebelumnya, ia telah membawa koleksinya ke sejumlah kegiatan mode di luar negeri, termasuk Lebanon dan Kyrgyzstan. Ia juga tercatat dua kali tampil dalam ajang fesyen di Rusia. Rancangannya telah menjangkau konsumen dari Amerika Serikat, Inggris, dan Rusia melalui pameran maupun pesanan khusus.

Persiapan menuju Kyrgyzstan turut memperoleh dukungan dari sejumlah pihak. Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Bidang Ekonomi Kreatif Disparpora, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, serta anggota DPRD Jawa Barat Pipik Taufik Ismail memberikan fasilitasi terhadap keberangkatan Akeyla dan KTI Foundation.

Dukungan juga datang dari sejumlah perusahaan, yakni PT Astra Daihatsu Motor, PT Inti Ganda Perdana, PT Gemala Kempa Daya (GKD), dan PT Astra NTN Driveshaft Indonesia. Bantuan yang diberikan mencakup dukungan operasional, sarana berupa mesin pengolahan, serta pendampingan legalitas bagi pelaku UMKM, termasuk pengurusan izin PIRT dan sertifikasi halal.

Perwakilan PT GKD, Iwan Santoso, mengatakan dukungan perusahaan diberikan karena melihat program pemberdayaan kelompok difabel yang dijalankan KTI Foundation. Sementara itu, perwakilan CSR PT Astra Daihatsu Motor, Yazid Alfaizun, mengapresiasi upaya Akeyla membangun kemandirian melalui karya dan berharap produk kreatif Indonesia dapat semakin dikenal di pasar global.

Baca juga:
Rekomendasi Kampus dengan Jurusan Sistem Informasi Terbaik

Pipik Taufik Ismail menilai keikutsertaan Akeyla juga dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali batik Karawang melalui pendekatan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Ia menyebut kreativitas generasi muda dapat membuka ruang baru bagi motif tradisional untuk diterima di lingkungan mode internasional.

“Batik adalah warisan leluhur yang proses pembuatannya menyerupai kegiatan melukis pola. Akeyla menunjukkan bahwa motif tradisional Karawang dapat dikembangkan menjadi busana modern sekaligus memiliki daya saing di tingkat internasional,” kata Pipik.

Setelah rangkaian kegiatan di Kyrgyzstan selesai, koleksi Akeyla diharapkan dapat membuka peluang baru bagi pengenalan batik Karawang dan produk fesyen Indonesia. Agenda tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas jaringan kerja sama budaya serta pasar kreatif Indonesia di luar negeri.