News

Pemkab Karawang Salurkan Pompa Air Atasi Kekeringan Sawah

×

Pemkab Karawang Salurkan Pompa Air Atasi Kekeringan Sawah

Sebarkan artikel ini
Air

Karawanghitz, Karawang — Pemerintah Kabupaten Karawang menyalurkan bantuan puluhan pompa air dari Kementerian Pertanian kepada kelompok tani untuk menghadapi berkurangnya pasokan air selama musim kemarau 2026. Bantuan tersebut ditujukan untuk menjaga lahan pertanian tetap mendapatkan suplai air sehingga petani dapat mempertahankan kegiatan tanam meski sejumlah wilayah persawahan mulai mengalami kekeringan.

Kabid Prasarana Pertanian Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Karawang, Lilis Suryani, mengatakan penyaluran pompa dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan wilayah. Pemerintah daerah memprioritaskan kawasan yang mengalami keterbatasan air agar sarana tersebut dapat segera digunakan untuk mendukung irigasi persawahan.

Pada tahap awal, sebanyak 63 unit pompa air berukuran 3 inci telah didistribusikan kepada kelompok tani yang berada di 22 kecamatan. Setiap unit pompa diperkirakan mampu membantu pengairan lahan dengan cakupan sekitar 3 hingga 5 hektare, bergantung pada kondisi sumber air dan jaringan irigasi yang tersedia.

Baca juga:
Rekomendasi Kampus dengan Jurusan Sistem Informasi Terbaik

Selain pompa berukuran 3 inci, pemerintah juga menyalurkan 14 unit pompa berkapasitas lebih besar, masing-masing berukuran 4 dan 6 inci. Bantuan tersebut diarahkan ke beberapa wilayah Karawang bagian utara yang dinilai memiliki tingkat kerawanan kekeringan lebih tinggi.

Sejumlah wilayah yang mendapatkan prioritas antara lain Kecamatan Pakisjaya, Cilamaya Wetan, dan Pedes. Penempatan pompa disesuaikan dengan kondisi lapangan sehingga kelompok tani dapat memanfaatkannya untuk mengambil dan menyalurkan air ke lahan yang mengalami kekurangan pasokan.

Lilis menjelaskan penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui distribusi pompa. Pemerintah Kabupaten Karawang juga mengerahkan alat berat untuk memperbaiki saluran irigasi tersier yang mengalami pendangkalan. Pengerukan dilakukan di sejumlah titik, termasuk wilayah Pakisjaya dan Cilamaya Wetan, agar kapasitas dan fungsi saluran dapat kembali optimal.

“Bantuan pompa dari Kementerian Pertanian kami distribusikan secara bertahap kepada kelompok tani agar kegiatan tanam tetap bisa berlangsung. Kami juga menurunkan alat berat untuk mengeruk saluran irigasi tersier yang mengalami pendangkalan dan mengembalikan fungsi pengairannya,” ujar Lilis, Selasa (25/8/2026).

Langkah tersebut dilakukan karena dampak kekeringan mulai memengaruhi aktivitas pertanian di sejumlah kawasan Karawang. Berkurangnya ketersediaan air membuat sebagian petani harus menunda penanaman karena lahan tidak memperoleh pasokan irigasi yang cukup.

Ketua Serikat Tani Karawang, Deden Sofyan, memperkirakan lebih dari 2.000 hektare sawah saat ini belum ditanami akibat persoalan air. Kondisi tersebut tersebar di sejumlah wilayah, terutama kawasan utara yang selama musim kemarau menghadapi penurunan pasokan air.

Menurut Deden, wilayah yang terdampak di bagian utara mencakup Kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Rengasdengklok, dan Cibuaya. Sementara itu, persoalan serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah bagian selatan dan tengah, seperti Tegalwaru, Pangkalan, Ciampel, dan Telukjambe Barat.

“Lebih dari 2.000 hektare sawah sementara tidak bisa ditanami karena debit air irigasi turun cukup drastis. Petani akhirnya harus menunggu sampai kondisi air memungkinkan. Persoalannya bukan hanya cuaca, tetapi juga fungsi beberapa embung yang belum optimal untuk menampung dan menyuplai air,” kata Deden.

Kondisi tersebut membuat petani membutuhkan dukungan pengairan agar masa tanam tidak semakin mundur. Selain pompa, ketersediaan saluran irigasi yang berfungsi baik menjadi faktor penting untuk memastikan air dapat menjangkau lahan pertanian.

Baca juga:
Mau Kuliah di Kampus dengan Jurusan Sistem Informasi Akuntansi Terbaik? Ini 4 Pilihannya

Pemerintah daerah kini menggabungkan beberapa langkah penanganan, mulai dari distribusi pompa beragam kapasitas, normalisasi saluran tersier, hingga pemanfaatan sumber dan tempat penampungan air yang tersedia. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan suplai air ke sawah yang terdampak kekeringan.

Bagi petani, keberadaan sarana pengairan tambahan diharapkan dapat mengurangi risiko lahan tidak produktif selama kemarau. Pemerintah dan kelompok tani juga perlu menyesuaikan penggunaan pompa dengan kondisi sumber air agar distribusinya dapat menjangkau lahan yang membutuhkan.

Penyaluran bantuan dan perbaikan jaringan irigasi selanjutnya akan dilakukan berdasarkan kebutuhan wilayah. Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan kekeringan agar aktivitas pertanian di Karawang tetap dapat berjalan selama pasokan air belum kembali normal.