Karawanghitz, Karawang — Bagi Alin Tamaya, mahasiswi semester 6 Program Studi Sistem Informasi Akuntansi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kabupaten Karawang, keberhasilannya lolos sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026 bukan sekadar pencapaian, tetapi sebuah proses pembelajaran yang membuka ruang kontribusi lebih luas di bidang teknologi dan pengembangan diri.
Dari total 81.000 pendaftar di seluruh Indonesia, Alin berhasil masuk dalam 2.000 peserta terpilih. Ia memandang proses ini sebagai perjalanan yang penuh tantangan sekaligus refleksi atas kemampuan diri yang selama ini diasah.
“Bagi saya, menjadi Google Student Ambassador bukan hanya tentang lolos seleksi, tetapi bagaimana prosesnya mengajarkan banyak hal, mulai dari manajemen waktu, cara berpikir kritis, hingga keberanian untuk mencoba,” ujar Alin.
Alin menjelaskan bahwa sejak awal pendaftaran yang dibuka pada 23 Februari hingga 16 Maret 2026, ia sudah menyadari bahwa program ini menuntut keseriusan. Pada tahap tersebut, peserta juga mengikuti program referral yang berjalan bersamaan, sehingga diperlukan strategi dalam membangun keterlibatan.
“Di tahap awal saja sudah terasa bahwa program ini tidak sederhana. Kita harus aktif, konsisten, dan punya inisiatif untuk terlibat lebih,” katanya.
Tantangan semakin terasa ketika memasuki tahap pengumpulan self-recorded interview dan Gemini Challenge yang harus diselesaikan sebelum 23 Maret 2026. Menurut Alin, fase ini menjadi titik krusial yang menguji kemampuan komunikasi dan pemahaman teknologi secara bersamaan.
“Self-recorded interview itu bukan hanya soal menjawab pertanyaan, tapi bagaimana kita menyampaikan ide dengan jelas dan meyakinkan. Sementara Gemini Challenge benar-benar menguji cara kita melihat masalah dan mencari solusi,” jelasnya.
Saat memasuki masa seleksi pada 23 hingga 31 Maret 2026, Alin mengaku berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Namun, ia memilih untuk melihat fase tersebut sebagai bagian dari proses belajar.
“Di tahap seleksi, saya belajar untuk menerima bahwa hasil tidak selalu bisa kita kendalikan. Yang terpenting adalah bagaimana kita sudah berusaha maksimal,” ungkapnya.
Momen pengumuman pada 1 April 2026 menjadi titik yang tidak terlupakan bagi Alin. Ia menyebut bahwa keberhasilannya saat itu bukan hanya miliknya sendiri, tetapi juga hasil dari dukungan lingkungan sekitar.
“Saat dinyatakan lolos, yang saya rasakan bukan hanya senang, tapi juga tanggung jawab. Ini adalah kesempatan untuk belajar lebih banyak dan memberikan dampak, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain,” ujarnya.
Alin menilai bahwa perannya sebagai Google Student Ambassador selama periode 1 April hingga 31 Juli 2026 akan menjadi ruang untuk mengembangkan kapasitas diri sekaligus berbagi pengetahuan, khususnya di bidang teknologi digital.
“Saya melihat ini sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan dan berbagi dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Teknologi terus berkembang, dan kita perlu ikut beradaptasi sekaligus berkontribusi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Alin berharap pengalamannya ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai peluang yang ada, meskipun harus melalui proses yang tidak mudah.
“Tidak ada proses yang instan. Semua butuh usaha dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kita,” tutupnya.
Melalui sudut pandangnya, perjalanan Alin Tamaya sebagai Google Student Ambassador 2026 menjadi cerminan bahwa setiap proses memiliki nilai pembelajaran, sekaligus membuka peluang kontribusi yang lebih luas di era digital.












