Pendidikan

BEM dan HIMASI UBSI PSDKU Karawang Bahas Pentingnya Kesehatan Mental Mahasiswa

×

BEM dan HIMASI UBSI PSDKU Karawang Bahas Pentingnya Kesehatan Mental Mahasiswa

Sebarkan artikel ini

Karawanghitz, Karawang — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) PSDKU Karawang bersama Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMASI) menggelar talkshow bertema “Mental Health: Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah” pada Kamis, 16 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Kampus UBSI Cikampek ini menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan mental sekaligus mendorong mereka agar berani mencari bantuan ketika menghadapi tekanan akademik maupun persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Isu kesehatan mental saat ini semakin mendapat perhatian, terutama di kalangan mahasiswa yang dihadapkan pada berbagai tuntutan selama menjalani perkuliahan. Padatnya aktivitas, target akademik, hingga tantangan personal dapat memengaruhi kondisi psikologis apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi dan stres secara sehat. Berangkat dari kondisi tersebut, BEM dan HIMASI menghadirkan kegiatan yang tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga membuka ruang refleksi dan diskusi secara terbuka.

Rangkaian acara diawali dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan pembukaan oleh pembawa acara, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars UBSI, serta sambutan dari Ketua Pelaksana dan Kepala Kampus UBSI Cikampek. Setelah pembukaan, peserta memperoleh materi pengantar dari Bramadiar Surya yang membahas berbagai persoalan seputar kesehatan mental sebagai landasan sebelum memasuki sesi utama.

Pada sesi inti, psikolog Eky Gustaman, S.Psi. bersama Bramadiar Surya menyampaikan materi melalui konsep podcast interaktif. Format tersebut memungkinkan peserta mengikuti pembahasan secara lebih santai sekaligus memberikan kesempatan untuk memahami berbagai persoalan psikologis dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Dalam pemaparannya, Eky Gustaman menjelaskan bahwa kesehatan mental bukan hanya berkaitan dengan gangguan psikologis, melainkan juga kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, menghadapi tekanan, serta mempertahankan keseimbangan hidup. Menurutnya, setiap individu memiliki kemungkinan mengalami masa-masa sulit sehingga penting untuk mengenali kondisi diri sejak dini.

Ia menekankan bahwa seseorang tidak perlu memendam seluruh beban seorang diri. Dukungan dari keluarga, teman, maupun tenaga profesional dapat menjadi bagian penting dalam proses menghadapi berbagai tantangan. Mengakui bahwa kondisi diri sedang tidak baik bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal untuk memulihkan keadaan.

“Merasa lelah adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah tetap berusaha bangkit dan tidak ragu meminta pertolongan ketika memang membutuhkannya,” ujar Eky Gustaman dalam sesi diskusi bersama peserta.

Selain membahas cara menghadapi tekanan, Eky juga mengajak mahasiswa mengubah cara memandang tujuan hidup. Ia menilai fokus terhadap target yang terlalu jauh kerap membuat seseorang merasa terbebani. Sebaliknya, perhatian terhadap langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan setiap hari justru membantu menjaga semangat dan konsistensi dalam menjalani proses.

Menurutnya, menikmati setiap tahapan perjalanan merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan mental. Ia mengingatkan peserta agar tidak hanya terpaku pada hasil akhir, tetapi juga menghargai proses yang sedang dijalani. Dengan pendekatan tersebut, seseorang dinilai lebih mampu mengelola tekanan tanpa kehilangan motivasi.

Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan berlanjut dengan diskusi interaktif dan tanya jawab. Peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai pertanyaan terkait pengalaman menghadapi tekanan selama menjalani perkuliahan maupun kehidupan pribadi. Antusiasme peserta juga terlihat dalam sesi Kotak Rahasia, yaitu wadah bagi mahasiswa untuk berbagi cerita dan pengalaman secara anonim sehingga mereka dapat menyampaikan perasaan dengan lebih nyaman.

Ketua pelaksana kegiatan mengatakan bahwa talkshow ini dirancang sebagai ruang belajar sekaligus tempat bagi mahasiswa untuk saling memahami pentingnya kesehatan mental. Menurutnya, meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan psikologis di lingkungan kampus diharapkan dapat menciptakan budaya saling mendukung serta mengurangi anggapan negatif terhadap mahasiswa yang membutuhkan bantuan profesional.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai cara menjaga kesehatan mental, tetapi juga memahami pentingnya membangun komunikasi dengan lingkungan sekitar ketika menghadapi kesulitan. Talkshow berlangsung lancar hingga akhir acara dan ditutup dengan harapan agar kegiatan serupa dapat terus menghadirkan ruang diskusi yang aman, edukatif, dan relevan bagi mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan selama menempuh pendidikan tinggi.