
Karawang, Karawanghitz — Upaya memperkuat perlindungan bagi remaja di ruang digital kembali mendapat perhatian melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Stop Cyberbullying: Peran Sistem Informasi dalam Deteksi Cyberbullying dan Pembentukan Karakter Pengguna.” Kegiatan ini diselenggarakan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Karawang di SMPN 5 Klari, pada 21 November 2025, dan diikuti oleh 35 siswa perwakilan kelas IX.
Acara dibuka oleh Guru SMPN 5 Klari, Irwan Yuliadi Ismail, serta menghadirkan tim mahasiswa Sistem Informasi Kohar Hanapi, Varsha Sylvia Rani, Indah Amelia Putri, Alifa Nirwana Khalussa, dan M. Rizky Pratama di bawah bimbingan dosen pembina, Jarkasih, M.Pd. Kegiatan ini digelar sebagai respon terhadap meningkatnya kasus perundungan siber di kalangan pelajar, sekaligus sebagai edukasi penting agar remaja memahami risiko sekaligus etika berinteraksi di ruang maya.
Pada sesi pembuka, Irwan Yuliadi Ismail menekankan pentingnya edukasi semacam ini bagi siswa. “Remaja sekarang hidup berdampingan dengan media sosial. Mereka perlu dibimbing agar mampu menggunakan teknologi secara bijak. Kegiatan ini memberi wawasan konkret tentang bahaya cyberbullying dan cara melindungi diri,” ujarnya.
Cyberbullying dalam Perspektif Edukasi dan Kemanusiaan
Perundungan di dunia digital kini menjadi ancaman serius bagi kesejahteraan psikologis remaja. Akses internet yang luas dan cepat memudahkan informasi bergerak, namun juga memunculkan risiko pelecehan verbal, penghinaan daring, penyebaran foto tanpa izin, hingga perundungan melalui grup kelas.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa UBSI menjelaskan berbagai bentuk cyberbullying menggunakan contoh-contoh yang relevan dengan kehidupan pelajar. Siswa diajak memahami bagaimana tindakan kecil, seperti komentar negatif, dapat berdampak besar pada kondisi emosional seseorang. Pendekatan ini membuat materi terasa dekat dan mudah dicerna.
Cyberbullying dan Peran Mahasiswa sebagai Agen Literasi Digital
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan PKM ini merupakan bentuk penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya kontribusi nyata bagi masyarakat. Dosen pembimbing, Jarkasih, M.Pd, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya memberikan penyuluhan teknis, namun juga menanamkan nilai karakter digital positif.
“Kami ingin siswa memahami bukan hanya definisi cyberbullying, tetapi juga memiliki kesadaran moral untuk tidak melakukannya. Karakter digital yang kuat menjadi pondasi penting bagi masa depan mereka,” ungkapnya.
Para mahasiswa menggunakan metode presentasi interaktif, permainan edukatif, dan sesi berbagi pengalaman yang mendorong partisipasi aktif siswa. Pendekatan komunikatif ini membuat suasana belajar lebih menyenangkan dan tidak monoton.
Cyberbullying dan Pemanfaatan Sistem Informasi untuk Deteksi Dini
Salah satu fokus utama kegiatan adalah mengenalkan bagaimana Sistem Informasi mampu mendeteksi perilaku cyberbullying. Mahasiswa memperlihatkan contoh teknologi seperti analisis sentimen, identifikasi pola bahasa kasar, dan algoritma moderasi konten yang digunakan platform digital untuk memfilter komentar negatif.
Melalui contoh sederhana, siswa diajak memahami bahwa teknologi bukan hanya alat hiburan, tetapi juga instrumen pengamanan. Edukasi ini penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa dunia digital memiliki aturan dan mekanisme proteksi yang harus dipahami sejak usia dini.
Cyberbullying dan Pembentukan Karakter Pengguna
Selain aspek teknologi, kegiatan ini menekankan pembangunan karakter digital sebagai langkah fundamental mencegah cyberbullying. Alifa Nirwana Khalussa, salah satu pemateri, menegaskan pentingnya empati dan kesadaran berperilaku di ruang maya.
“Teknologi bisa membantu mendeteksi, tetapi yang paling penting adalah karakter pengguna. Jika kita terbiasa berpikir sebelum berkomentar dan menghargai orang lain, kita sudah ikut mencegah cyberbullying,” tuturnya.
Siswa merespons antusias saat berdiskusi mengenai pengalaman mereka menyaksikan teman menjadi korban perundungan siber. Banyak di antara mereka baru menyadari bahwa tidak ikut menyebarkan konten negatif merupakan bentuk dukungan nyata bagi korban.
Kegiatan berlangsung sejak pukul 08.00 WIB dengan rangkaian materi, diskusi, simulasi kasus, hingga penulisan pesan digital positif yang ditempelkan pada papan motivasi. Simbol ini menjadi komitmen bersama menciptakan ruang digital yang aman dan beradab.
Cyberbullying dan Harapan untuk Masa Depan Generasi Digital
Melalui kegiatan PKM ini, UBSI Kampus Karawang kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya terampil dalam teknologi, tetapi juga berkarakter dan berempati. Kolaborasi mahasiswa, dosen, dan sekolah membuktikan bahwa edukasi digital dapat menjadi gerakan kolektif yang berdampak nyata bagi kesejahteraan remaja.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan generasi digital yang cerdas, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja serta industri teknologi tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan. UBSI Kampus Karawang berkomitmen untuk terus menghadirkan edukasi serupa guna memperkuat karakter dan literasi digital masyarakat.












