Karawanghitz, Bekasi — Interaksi antara mahasiswa dan warga menjadi bagian dari kegiatan pengabdian BSI Explore 2026 di Desa Karang Indah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, selama masa penugasan pada Agustus 2026. Kohar Hanapi, salah satu mahasiswa yang bertugas di desa tersebut, berinteraksi dengan Keluarga Nenek melalui percakapan santai, berbagi pengalaman, hingga makan bersama untuk mengenal kehidupan masyarakat dari dekat.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami kondisi sosial warga berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Dalam percakapan yang berlangsung informal, Kohar mendengarkan cerita mengenai kehidupan sehari-hari, kondisi lingkungan, serta pandangan warga terhadap kehadiran mahasiswa dan program pengabdian yang dijalankan.
Bagi Kohar, komunikasi langsung dengan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pengabdian. Ia menilai mahasiswa perlu memahami kehidupan warga sebelum menentukan cara berinteraksi maupun menjalankan kegiatan di lingkungan desa.
Baca juga:
Tujuan Kuliah adalah Mengembangkan Pola Pikir, Bukan Mencari Uang
“Selama tinggal dan berkegiatan di sini, saya belajar bahwa pengabdian bukan hanya menjalankan program yang sudah disusun. Kami juga perlu mendengar cerita warga dan memahami bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Kohar.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang berbeda dibandingkan pengamatan dari luar. Percakapan langsung memungkinkan mahasiswa mengetahui persoalan dan kebiasaan warga secara lebih konkret, termasuk hal-hal sederhana yang mungkin tidak terlihat ketika kegiatan hanya berfokus pada program kerja.
Nenek menyambut baik kehadiran mahasiswa selama berada di Desa Karang Indah. Ia mengatakan interaksi yang dilakukan secara langsung membuat hubungan antara mahasiswa dan warga terasa lebih dekat. Kehadiran mahasiswa juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk saling bertukar cerita dan pengalaman.
“Kami senang mahasiswa mau datang dan berbaur dengan warga. Mereka tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi juga bersedia mengobrol dan mendengarkan cerita masyarakat,” kata Nenek.
Kegiatan makan bersama turut menciptakan suasana yang lebih cair. Dalam situasi informal tersebut, mahasiswa dan warga dapat berbicara tanpa batasan suasana kegiatan resmi. Pembicaraan mengenai aktivitas harian kemudian berkembang menjadi berbagai cerita tentang kondisi lingkungan dan pengalaman warga.
Bagi mahasiswa, komunikasi seperti itu menjadi salah satu cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Mereka perlu memahami kebiasaan masyarakat, mengenali karakter warga, serta membangun komunikasi dengan berbagai kelompok yang memiliki latar belakang dan kebutuhan berbeda.
Nenek berharap hubungan yang terbentuk selama mahasiswa menjalankan tugas di desa dapat memberikan pengalaman positif bagi kedua pihak. Menurutnya, sikap saling menghargai dan membantu merupakan bagian penting ketika mahasiswa berinteraksi dengan masyarakat.
“Bagi kami, yang penting adalah kebersamaannya. Selama mahasiswa dan warga bisa saling menghargai serta membantu, kegiatan seperti ini akan meninggalkan pengalaman yang baik,” tuturnya.
Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa komunikasi informal dapat menjadi bagian dari proses pengabdian masyarakat. Obrolan sederhana mengenai rutinitas sehari-hari dapat membantu mahasiswa memperoleh informasi mengenai kondisi warga secara lebih alami. Dari interaksi itu, mahasiswa dapat melihat persoalan masyarakat tidak hanya berdasarkan data atau pengamatan, tetapi melalui cerita orang yang mengalaminya.
Bagi Kohar dan timnya, pengalaman berinteraksi dengan warga menjadi pembelajaran sosial yang melengkapi kegiatan yang telah dirancang selama program berlangsung. Mahasiswa dituntut untuk mampu beradaptasi, mendengarkan, serta menyampaikan gagasan dengan cara yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
Baca juga:
Kata Deddy Corbuzier, Kuliah Itu Nggak Penting dan Bikin Milenial Mengalami ‘Postponing Reality’
Tim BSI Explore 2026 yang bertugas di Desa Karang Indah diketuai Kohar Hanapi, dengan anggota Aulia Rahma Suryani, Derina Rizkia Zahra, Fazryan Syauqi, Laura Syahnanda Zulfia, dan Nurulita Khusnul Khotimah. Selama berada di desa, tim tersebut menjalankan sejumlah kegiatan pengabdian sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat.
Kehadiran mahasiswa di Desa Karang Indah tidak hanya diarahkan pada penyelesaian program kerja. Interaksi dengan warga menjadi bagian dari proses mahasiswa memahami lingkungan sosial secara langsung. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa belajar bahwa setiap masyarakat memiliki karakter, kebiasaan, serta kebutuhan yang perlu dipahami sebelum sebuah kegiatan dilaksanakan.
Selama masa penugasan, hubungan antara mahasiswa dan warga kemudian berkembang melalui berbagai pertemuan dan aktivitas sehari-hari. Percakapan, makan bersama, dan saling bertukar pengalaman menjadi bagian dari keseharian yang mempertemukan mahasiswa dengan kehidupan masyarakat Desa Karang Indah secara lebih dekat.












