Karawanghitz, Karawang — Warga Kampung Cibereum, RT 07 RW 04, Desa Jatilaksana, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengalami krisis air bersih selama lima bulan pada 2026. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, warga harus berjalan sekitar satu kilometer menuju sumber mata air di sekitar area persawahan. Kondisi ini lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya, ketika kekeringan berlangsung sekitar tiga bulan.
Keterbatasan air membuat masyarakat bergantung pada sumber mata air dan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah maupun pihak lain. Namun, bantuan tersebut tidak selalu tersedia setiap hari, sehingga warga harus mengatur persediaan untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari memasak hingga mandi dan mencuci.
Imas (52), salah seorang warga Kampung Cibereum, mengatakan pengambilan air dari sumber yang jauh telah menjadi rutinitas selama musim kemarau. Menurutnya, bantuan air bersih sangat dinantikan karena dapat mengurangi beban warga yang kesulitan memperoleh air secara mandiri.
Baca juga:
Pemkab Karawang Raih Penghargaan Tata Kelola Pemerintahan Responsif dan Akuntabel
“Setiap hari kami mengambil air ke mata air. Dari jalan sampai ke titik sumber air, jaraknya sekitar satu kilometer,” ujar Imas, Rabu (15/9/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Imas membutuhkan sekitar empat jeriken air setiap hari. Ketika bantuan tidak datang, ia dan warga lainnya harus mengambil air sendiri dari sumber yang masih tersedia. Sementara itu, distribusi bantuan air bersih terkadang baru diterima dalam rentang satu hingga dua minggu sekali.
Kondisi ekonomi turut memperberat situasi masyarakat. Sebagian warga bekerja sebagai pekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Akibatnya, membeli air galon isi ulang secara rutin bukan pilihan yang mudah bagi keluarga yang terdampak kekeringan.
Persediaan air semakin terbatas setelah sumur bor di rumah warga tidak lagi menghasilkan air. Sejumlah sumber air yang sebelumnya lebih dekat dengan permukiman juga mulai mengering akibat kemarau berkepanjangan. Warga akhirnya mengandalkan sumber mata air di sekitar persawahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Air dari sumur bor di rumah sekarang sudah tidak ada sama sekali. Beberapa sumber yang dekat dengan permukiman juga mengering, sehingga kondisi tahun ini terasa lebih parah,” kata Imas.
Ketua RT setempat, Onen, menjelaskan bahwa kekeringan berdampak terhadap sekitar 95 kepala keluarga atau 279 warga di Kampung Cibereum. Selama bertahun-tahun, masyarakat mengandalkan sumur bor yang dibangun melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).
Namun, ketersediaan air dari sumur bor bergantung pada kondisi sumber air di lokasi pengeboran. Tidak semua titik dapat menghasilkan air, sementara sumber yang sebelumnya mencukupi kebutuhan warga ikut mengering ketika musim kemarau berlangsung lama.
“Ada warga yang melakukan pengeboran secara mandiri dan berhasil mendapatkan air. Namun, sebagian besar masyarakat mengandalkan PAMSIMAS. Saat kemarau berkepanjangan seperti sekarang, sumber airnya juga ikut mengering,” ujar Onen.
Persoalan tersebut tidak hanya dialami masyarakat Desa Jatilaksana. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang hingga 16 September 2026 pukul 08.00 WIB, kekeringan telah melanda 24 desa yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Karawang.
Kepala Pelaksana BPBD Karawang, Usep Supriatna, menyebut jumlah warga terdampak mencapai 27.180 jiwa dari 8.422 kepala keluarga. Untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat, Pemerintah Kabupaten Karawang telah mendistribusikan 349.000 liter air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Selain distribusi dari pemerintah daerah, bantuan juga disalurkan melalui kerja sama dengan berbagai instansi dan pihak swasta. Total volume bantuan dari kolaborasi tersebut mencapai 1.245.000 liter air bersih. Penyaluran dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan akses air selama musim kemarau.
Enam kecamatan yang tercatat terdampak meliputi Pangkalan, Tegalwaru, Ciampel, Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, dan Pakisjaya. Di Kecamatan Pangkalan, wilayah terdampak mencakup Desa Mulangsari, Kertasari, Jatilaksana, Ciptasari, Medalsari, dan Cintaasih.
Baca juga:
Bupati Aep Terima Penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI
Di Kecamatan Tegalwaru, kekeringan melanda Desa Kutalanggeng, Cintalanggeng, Cintalaksana, Cigunungsari, Cipurwasari, dan Kutamaneuh. Sementara itu, Kecamatan Ciampel mencakup Mulyasejati, Kutanegara, Parungmulya, Kutamekar, dan Mulyasari.
Adapun di Kecamatan Telukjambe Barat, desa terdampak meliputi Wanakerta dan Margakaya. Di Telukjambe Timur, wilayah terdampak mencakup Sukaluyu, Puserjaya, dan Sirnabaya. Sementara di Kecamatan Pakisjaya, kekeringan tercatat terjadi di Desa Telagajaya dan Solokan.
Bagi warga Kampung Cibereum, keterbatasan air masih menjadi persoalan sehari-hari selama sumber air belum kembali mencukupi. Masyarakat tetap mengandalkan mata air yang tersisa dan menunggu distribusi bantuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah kemarau yang berlangsung lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya.












