Karawanghitz, Bekasi — Aktivitas panen jamur merang di Desa Karang Indah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, menjadi salah satu potensi usaha lokal yang diamati Tim BSI Explore 2026 selama menjalankan kegiatan pengabdian masyarakat pada Agustus 2026. Mahasiswa mengunjungi lokasi budidaya milik Teh Yeni dan mengikuti proses panen bersama pemilik usaha untuk melihat secara langsung pengelolaan komoditas lokal serta peluang pengembangannya.
Panen dilakukan di tempat budidaya jamur merang yang dikelola Teh Yeni. Prosesnya terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian karena jamur harus dipanen pada ukuran yang sesuai. Jamur yang telah memenuhi kriteria kemudian dipetik, dipisahkan, dan disiapkan untuk dipasarkan kepada konsumen.
Bagi pelaku usaha, tahap panen merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan produksi. Kualitas hasil tidak hanya ditentukan ketika jamur dipetik, tetapi juga dipengaruhi perawatan sejak proses budidaya dimulai. Karena itu, setiap jamur yang akan dipanen perlu diperiksa agar hasil yang diperoleh sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
Baca juga:
Kata Deddy Corbuzier, Kuliah Itu Nggak Penting dan Bikin Milenial Mengalami ‘Postponing Reality’
Teh Yeni mengatakan perawatan menjadi salah satu faktor yang menentukan kualitas jamur merang. Ia juga menekankan pentingnya ketelitian ketika memilih hasil yang sudah siap dipanen.
“Perawatan sejak awal harus diperhatikan supaya jamur bisa tumbuh dengan baik. Saat panen pun perlu teliti agar yang dipetik memang sudah memenuhi ukuran dan siap dijual,” ujar Teh Yeni.
Kunjungan mahasiswa memberikan gambaran langsung mengenai proses produksi yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi warga. Kohar, mahasiswa BSI Explore 2026 yang mengikuti kegiatan tersebut, menilai jamur merang memiliki peluang karena produk tersebut merupakan salah satu bahan pangan yang digunakan masyarakat.
“Jamur merang cukup menarik karena produknya memang dibutuhkan konsumen. Kalau kualitas tetap dijaga dan jangkauan pemasaran bisa diperluas, usaha seperti ini memiliki peluang untuk berkembang,” kata Kohar.
Selain mengamati proses pemanenan, mahasiswa juga berdiskusi dengan pemilik usaha mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan kegiatan produksi. Pembahasan tersebut memberikan gambaran bahwa keberlangsungan usaha tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga pada upaya menjaga mutu dan memastikan hasil panen dapat terserap pasar.
Dalam usaha budidaya, kebutuhan konsumen menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Produk yang memiliki kualitas baik harus diikuti dengan pengelolaan pascapanen dan pemasaran yang sesuai agar hasil produksi dapat memberikan nilai ekonomi bagi pemilik usaha.
Potensi jamur merang tersebut juga dapat dikaitkan dengan pengembangan ekonomi kreatif di tingkat desa. Produk hasil budidaya masyarakat berpeluang memiliki nilai tambah apabila dikelola secara lebih terarah. Pengembangan dapat dilakukan melalui perbaikan pengemasan, penguatan identitas produk, serta pemanfaatan media digital untuk memperkenalkan komoditas kepada calon konsumen.
Bagi Tim BSI Explore 2026, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran langsung mengenai potensi ekonomi yang telah tumbuh di lingkungan masyarakat. Mahasiswa dapat melihat bahwa pemberdayaan tidak selalu harus diawali dengan program baru, tetapi juga dapat dilakukan dengan mengenali dan memahami usaha yang sudah dijalankan warga.
Kohar mengatakan pengalaman melihat proses panen secara langsung memberikan pemahaman yang lebih konkret mengenai rantai usaha dibandingkan sekadar memperoleh informasi secara teori.
“Kami melihat langsung bahwa desa memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Dari proses panen saja, kami dapat belajar tentang produksi, menjaga kualitas, sampai memikirkan bagaimana produk tersebut dapat dikenal oleh pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Kegiatan kunjungan tersebut juga memperlihatkan hubungan antara produksi lokal dan kebutuhan konsumen. Bagi pelaku usaha, menjaga kualitas menjadi bagian penting agar produk tetap diterima pasar. Sementara bagi mahasiswa, proses tersebut memberikan pengalaman untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat secara lebih dekat.
Baca juga:
Tujuan Kuliah adalah Mengembangkan Pola Pikir, Bukan Mencari Uang
Pengamatan langsung terhadap usaha jamur merang menjadi salah satu aktivitas Tim BSI Explore 2026 selama berada di Desa Karang Indah. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program yang telah dirancang, tetapi juga berinteraksi dengan warga untuk mengenali kondisi dan potensi yang dapat mendukung pengembangan ekonomi setempat.
Dari lokasi budidaya tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai proses usaha yang dimulai dari perawatan, pemanenan, pemilahan, hingga pemasaran. Rangkaian itu menjadi pengalaman lapangan yang mempertemukan pengetahuan mahasiswa dengan aktivitas ekonomi masyarakat yang berlangsung sehari-hari.
Setelah panen selesai, jamur yang telah dipilih dipersiapkan untuk dipasarkan. Aktivitas tersebut kembali dilanjutkan sebagai bagian dari rutinitas usaha Teh Yeni, sementara mahasiswa membawa pengalaman mengenai bagaimana komoditas lokal dikelola dan memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pengelolaan usaha serta pemasaran yang lebih luas.












