Karawanghitz, Kabupaten Bekasi – Opak singkong buatan warga Kampung Cibadak, Desa Karang Indah, masih diproduksi dengan cara sederhana dan mempertahankan cita rasa gurih serta tekstur renyah. Kuliner rumahan tersebut menjadi salah satu potensi pangan lokal yang menarik perhatian mahasiswa BSI Explore 2026 saat menjalankan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Karang Indah pada Agustus 2026.
Bagi warga Kampung Cibadak, opak singkong bukan sekadar makanan ringan. Produk berbahan dasar singkong itu merupakan bagian dari tradisi kuliner yang diwariskan antargenerasi. Keterampilan membuat opak tetap dijalankan melalui tahapan pengolahan singkong, pembentukan adonan, penjemuran, hingga penggorengan atau pengolahan lebih lanjut sebelum dikonsumsi.
Proses produksi yang masih sederhana menjadi bagian dari karakter opak Cibadak. Bahan pangan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar diolah menjadi makanan dengan rasa gurih dan tekstur renyah. Bagi sebagian masyarakat, cita rasa tersebut juga berkaitan dengan kenangan terhadap makanan rumahan yang dahulu cukup mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga:
Tujuan Kuliah adalah Mengembangkan Pola Pikir, Bukan Mencari Uang
Keberadaan usaha tersebut mendapat perhatian dari mahasiswa yang berkunjung dalam rangkaian BSI Explore 2026. Kohar Hanapi, mahasiswa yang turut mengunjungi usaha opak, mengatakan makanan tradisional seperti opak singkong kini relatif sulit ditemukan, terutama produk yang masih memiliki cita rasa khas.
“Sekarang makanan khas seperti opak semakin jarang ditemui. Karena itu, rasa khas yang masih dipertahankan seperti ini menarik untuk diperhatikan,” ujar Kohar.
Menurut Kohar, keberlanjutan makanan tradisional tidak hanya berkaitan dengan produk yang dijual, tetapi juga dengan pengetahuan dan kebiasaan masyarakat yang menyertainya. Ia menilai opak perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar proses dan cita rasanya tetap dikenal.
“Opak bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan identitas masyarakat. Cita rasa khas seperti ini perlu dijaga agar tidak hilang,” katanya.
Kunjungan mahasiswa ke Kampung Cibadak menjadi bagian dari pembelajaran langsung selama melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Mereka mengamati proses produksi sekaligus berinteraksi dengan warga mengenai pengolahan, cita rasa, dan perjalanan usaha pangan rumahan tersebut.
Dari kegiatan itu, mahasiswa dapat melihat bahwa usaha skala rumah tangga membutuhkan keterampilan dan ketekunan untuk mempertahankan produksi. Pemanfaatan singkong sebagai bahan utama juga menunjukkan bagaimana komoditas sederhana dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah dan berpotensi memberikan penghasilan bagi keluarga.
Potensi tersebut membuat opak singkong memiliki sisi lain selain nilai kuliner. Pengembangan pangan lokal dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter produk dan budaya masyarakat. Pada saat yang sama, pelaku usaha perlu menghadapi perubahan selera konsumen serta persaingan dengan berbagai jenis makanan ringan yang semakin beragam.
Peran generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan kuliner tradisional. Pengenalan produk, dokumentasi proses pembuatan, serta pengembangan strategi pemasaran dapat menjadi cara untuk memperluas pengetahuan masyarakat terhadap makanan lokal. Upaya tersebut juga dapat membantu produk tradisional tetap memiliki ruang di tengah perubahan pola konsumsi.
BSI Explore 2026 merupakan program pengabdian kepada masyarakat unggulan Universitas Bina Sarana Informatika yang berlangsung pada 5–25 Agustus 2026. Program ini melibatkan mahasiswa terpilih yang ditempatkan dalam tim di 38 desa mitra untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan. Setiap tim terdiri atas enam mahasiswa dan didampingi seorang Dosen Pendamping Lapangan.
Baca juga:
Kata Deddy Corbuzier, Kuliah Itu Nggak Penting dan Bikin Milenial Mengalami ‘Postponing Reality’
Tim BSI Explore 2026 yang bertugas di Desa Karang Indah dipimpin Kohar Hanapi. Anggotanya terdiri atas Aulia Rahma Suryani, Derina Rizkia Zahra, Fazryan Syauqi, Laura Syahnanda Zulfia, dan Nurulita Khusnul Khotimah. Selama kegiatan, mereka terlibat dalam berbagai interaksi dengan masyarakat untuk memahami kondisi dan potensi yang ada di desa.
Kegiatan di Kampung Cibadak memperlihatkan bagaimana keterampilan mengolah bahan pangan dapat berjalan bersama upaya menjaga tradisi. Bagi warga, proses mempertahankan opak berarti menjaga resep, cara produksi, dan rasa yang telah dikenal dari generasi ke generasi. Sementara bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses memahami potensi masyarakat secara langsung selama program BSI Explore 2026.
Dari Kampung Cibadak, opak singkong tetap hadir sebagai makanan rumahan yang dibuat dengan keterampilan warga. Keberadaannya bergantung pada keberlanjutan proses produksi dan pengenalan kepada generasi berikutnya, sehingga kuliner tersebut tetap dikenal sebagai bagian dari kekayaan pangan lokal Desa Karang Indah setempat.










