Karawanghitz, Karawang – Mahasiswa Program Studi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) PSDKU Karawang menggelar kegiatan sosialisasi bertema “Gaul Tanpa Rusak” di SMKN 1 Cikampek pada 23 Mei 2026. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi mengenai etika pergaulan Islami sekaligus memperkuat pembentukan karakter siswa agar mampu menghadapi tantangan pergaulan remaja di era digital tanpa mengabaikan nilai-nilai moral dan agama.
Sosialisasi tersebut diinisiasi oleh Kelompok 3 Kelas 19.4B.14 sebagai bagian dari implementasi mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Melalui kegiatan pengabdian ini, mahasiswa mengajak siswa memahami pentingnya membangun pergaulan yang sehat, bertanggung jawab, dan selaras dengan ajaran Islam di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Pemilihan tema “Gaul Tanpa Rusak” dilatarbelakangi oleh berbagai fenomena yang banyak ditemui di kalangan remaja saat ini. Perkembangan media sosial dan lingkungan digital dinilai turut memengaruhi pola pikir serta gaya hidup generasi muda. Tidak sedikit remaja yang merasa harus selalu mengikuti tren karena takut tertinggal atau dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO). Selain itu, pemahaman yang keliru terhadap konsep You Only Live Once (YOLO) juga dinilai berpotensi mendorong perilaku yang kurang mempertimbangkan nilai moral maupun dampak jangka panjang.
Baca juga: “BTN Proaktif Dukung Kejari Karawang Usut Manipulasi Data KPR oleh Developer
Dalam kegiatan yang berlangsung di salah satu ruang kelas SMKN 1 Cikampek tersebut, mahasiswa menyampaikan materi secara komunikatif dan interaktif. Penyampaian materi tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga dikemas melalui diskusi serta sesi tanya jawab agar peserta lebih mudah memahami contoh penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Perwakilan Kelompok 3 Kelas 19.4B.14 UBSI Karawang menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi sosial menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda. Karena itu, mereka ingin menunjukkan bahwa remaja tetap dapat aktif bergaul, mengikuti perkembangan zaman, dan berprestasi tanpa harus meninggalkan prinsip moral maupun ajaran agama.
Menurutnya, menjadi remaja yang modern tidak berarti harus mengorbankan etika dalam bergaul. Sebaliknya, perkembangan zaman dapat dihadapi dengan tetap menjaga perilaku, menghormati sesama, serta memiliki kemampuan memilih lingkungan pertemanan yang memberikan pengaruh positif.
Materi yang disampaikan dalam sosialisasi berfokus pada empat pokok bahasan utama. Pertama, pentingnya memahami batasan dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan sesuai nilai-nilai Islam. Kedua, menjaga pandangan atau ghadhul bashar sebagai bentuk pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, mengelola waktu secara seimbang antara aktivitas belajar, pergaulan, dan ibadah. Keempat, membangun lingkungan pertemanan yang positif sehingga dapat saling mendukung dalam hal akademik maupun pembentukan karakter.
Keempat materi tersebut disampaikan dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan pelajar sehingga lebih mudah dipahami peserta. Mahasiswa juga mengaitkan pembahasan dengan berbagai kondisi yang sering ditemui di lingkungan sekolah maupun media sosial.
Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam sesi diskusi. Salah satu topik yang paling banyak dibahas ialah cara menghadapi tekanan dari teman sebaya (peer pressure) tanpa harus merasa dikucilkan atau dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman.
Peserta juga berdiskusi mengenai pentingnya memiliki keberanian untuk mengatakan tidak terhadap ajakan yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain. Mahasiswa memberikan berbagai contoh pendekatan yang dapat dilakukan agar remaja tetap mampu menjaga hubungan sosial secara sehat tanpa kehilangan prinsip yang dimiliki.
Baca juga: Minggu Depan Ada Long Weekend, Whoosh Tambah Jadwal hingga Malam
Pihak SMKN 1 Cikampek menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Sekolah menilai materi yang diberikan sejalan dengan program pembinaan karakter peserta didik, khususnya dalam mendukung kegiatan keagamaan dan pembentukan sikap positif di lingkungan sekolah.
Menurut pihak sekolah, edukasi seperti ini dapat menjadi pelengkap bagi berbagai program pembinaan siswa yang telah berjalan. Selain memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai keagamaan, kegiatan tersebut juga mendorong siswa memiliki kemampuan mengambil keputusan yang lebih bijak ketika menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan remaja.
Melalui sosialisasi ini, mahasiswa UBSI Karawang berharap peserta dapat menerapkan materi yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat, melalui penyebaran edukasi yang relevan dengan kebutuhan generasi muda di era digital. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan terus berlanjut sehingga semakin banyak pelajar yang memperoleh pemahaman mengenai pentingnya membangun karakter, menjaga etika pergaulan, dan memanfaatkan perkembangan zaman secara bijaksana.












